asma pada anak

Asma pada Anak Membuat Rentan terhadap COVID-19, Benarkah?

Sebarkan info ini:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Daftar Isi

Merebaknya virus COVID-19 yang menyerang pernapasan membuat munculnya pertanyaan, apakah jika saya mengalami gangguan pada kesehatan pernapasan saya akan menjadi lebih rentan terhadap virus COVID-19? Bagaimana dengan asma pada anak? Apakah anak jadi lebih rentan tertular corona?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sempat menyatakan bahwa mereka yang memiliki asma, bersamaan dengan penyakit lainnya seperti jantung dan diabetes menjadi lebih rentan tertular corona. Apakah pernyataan WHO tersebut sudah terbukti kebenarannya? Terus membaca untuk mengetahui jawabannya.

Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek kisaran biaya?​

Pakai layanan gratis Smarter Health.

Bagaimana menurut data?

Mengutip dari statistik COVID-19, memang ada kelompok tertentu yang lebih rentan tertular COVID-19. Kelompok yang dimaksud, jika dibagi berdasarkan usia adalah mereka yang berusia di atas 80 tahun dengan tingkat kematian yang terus meningkat hingga 15%. Angka ini cukup signifikan jika dibandingkan dengan angka kematian pada kelompok usia 30-39 tahun yang hanya mencapai 0,2%.

Pada situs yang sama, tertera informasi bahwa infeksi COVID-19 dapat berpotensi menjadi lebih parah jika diderita oleh pasien yang telah mengalami gangguan kesehatan sebelum terinfeksi virus corona. 

Gangguan kesehatan yang dimaksud meliputi kanker, darah tinggi, diabetes, penyakit kardiovaskular, serta penyakit pernafasan kronis. Jika dibandingkan dengan angka kematian pasien tanpa gangguan kesehatan, laju kematian orang yang sudah memiliki berbagai penyakit sebelumnya lebih besar 6-10 kali lipat.

Meski data menunjukkan demikian, kenyataannya, dikutip dari situs yang sama, ada sedikit miskonsepsi jika Anda berpikir bahwa orang yang memiliki penyakit sebelumnya (termasuk penyakit asma yang menyerang pernapasan) lebih rentan terinfeksi COVID-19. 

Yang sebenarnya terjadi adalah, jika pengidap penyakit tersebut terinfeksi COVID-19, gejala-gejala klinis COVID-19 akan menjadi lebih parah dibandingkan dengan mereka yang terinfeksi COVID-19 tanpa penyakit lain.

Untuk itu, terutama pada masa-masa ini, penting untuk menjaga kesehatan termasuk kesehatan sistem pernapasan.

Gejala asma pada anak

Besar kemungkinan bahwa anak tidak menyadari kondisi kesehatannya secara penuh. Oleh karena itu, orangtua perlu memperhatikan jika anak menunjukkan gejala-gejala penyakit kesehatan yang cukup serius, salah satunya asma.

Gejala asma pada anak cukup mirip dengan gejala penyakit pernapasan lainnya. Hal ini menyebabkan banyak orangtua yang tidak menyadari jika anaknya terkena asma.

Meski gejala asma cukup beragam pada tiap individu, bahkan dapat bervariasi pada satu individu, ada gejala-gejala asma pada anak secara umum, yaitu sebagai berikut:

  • Batuk kronis yang tidak kunjung membaik dan sembuh
  • Anak mengalami kesulitan bernapas
  • Dada anak terasa sesak atau sakit 
  • Terdengar bunyi seperti siulan kecil saat anak menghembuskan napas (mengi)
  • Tidur terganggu akibat sesak napas, batuk atau mengi

Apa faktor yang meningkatkan risiko anak terkena asma?

Penyebab asma pada anak, menurut Mayo Clinic sampai saat ini belum dapat diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor yang dapat memicu asma pada anak, yaitu:

  • Lahir secara prematur
  • Lahir dengan berat badan yang rendah
  • Memiliki riwayat penyakit asma turunan
  • Terkena paparan asap rokok yang cukup tinggi
  • Memiliki infeksi pada pernapasan, seperti pneumonia, bronkitis, dan lain-lain
  • Memiliki alergi tertentu, misalnya alergi makanan atau eksim

Bagaimana cara mengobati asma pada anak?

Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengobati asma pada anak:

Menggunakan spirometer

Spirometer merupakan alat yang berfungsi untuk mengukur jumlah udara yang mampu dihembuskan dari paru-paru. Metode ini cocok dilakukan pada asma yang dipicu oleh alergi. Spirometer hanya dapat digunakan pada anak yang berusia 5 tahun ke atas.

Obat hirup (nebulizer)

Pada bayi dan anak-anak, obat asma perlu diberikan melalui nebulizer yang berbentuk masker yang dipasang pada wajah atau inhaler. Hal ini berfungsi untuk mengubah obat cair hingga berbentuk uap agar mempermudah penyerapannya ke dalam paru-paru.

Setelah masker terpasang, anak akan diminta menghirup dan menahan napas secara perlahan selama 10 detik. Pengobatan asma dengan menggunakan obat hirup tidak boleh dilakukan ketika anak dalam kondisi rewel atau menangis. Hal ini dikarenakan napas yang tersengal-sengal dan sesenggukan dapat mempengaruhi jumlah obat yang mencapai paru-paru, meski tidak selalu terjadi.

Mengonsumsi obat 

Ada beberapa jenis obat untuk menangani asma yang terbagi berdasarkan jenis asma yang dimiliki anak. Pertama, ada bronkodilator dengan fungsi membuka saluran pernapasan dan melemaskan otot yang menegang. Bronkodilator bekerja dengan cepat dan cocok dijadikan pertolongan pertama.

Jenis kedua berfungsi untuk mengobati radang saluran udara untuk pengendali atau pemeliharaan. Biasanya obat jenis ini digunakan dengan inhaler sebagai alat bantu. Obat ini lebih bersifat jangka panjang.

Dalam menentukan jenis obat yang tepat bagi asma anak, konsultasikan ke dokter agar obat tepat sasaran dan efektif mengatasi asma. Untuk rekomendasi atau membuat janji dengan dokter di dalam dan luar negeri, hubungi Smarter Health.

Pengobatan apa yang paling efektif untuk anak?

Tiap jenis pengobatan memiliki fungsi sendiri-sendiri yang perlu disesuaikan dengan jenis asma dan tujuan pengobatan. Meski demikian, ada beberapa metode yang cenderung lebih mudah diterima oleh anak, yaitu menghirup obat antiradang atau kostikosteroid.

Pengobatan jenis ini terkenal sangat efektif dan aman, dengan syarat harus dijalankan secara teratur. Jika tidak dijalankan secara konsisten, tidak akan terasa khasiatnya. Jenis ini cocok diberikan pada anak yang memiliki gejala asma berkepanjangan.

Selain menggunakan obat hirup, tersedia juga obat yang dikonsumsi dalam bentuk oral yaitu leukotriene. Cara kerja obat ini adalah menghalangi aktivitas kimia yang berhubungan dengan radang saluran udara.

Pilihan obat ini layak dicoba jika penggunaan kortikosteroid hisap tidak membuat gejala asma menjadi lebih terkontrol. Obat ini sifatnya tambahan dan tidak dapat diberikan secara monoterapi, melainkan harus dikombinasikan dengan kortikosteroid hisap.

Apa ada efek samping dari pengobatan asma pada anak?

Secara umum, jika mengikuti resep dan rekomendasi dokter mengenai cara konsumsi obat, pengobatan asma tergolong relatif aman. Jika pengobatan tidak membuahkan hasil, konsultasikan ke dokter untuk mengetahui apakah ada gangguan kesehatan pada organ lain yang perlu ditangani segera.

Jika tidak ditangani, gangguan kesehatan tersebut dapat memperparah kondisi asmanya. Gangguan kesehatan yang dimaksud meliputi infeksi sinus, naiknya asam lambung (GERD), dan rhinitis alergi.

Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek kisaran biaya?​

Layanan kami 100% gratis!

Sebarkan info ini:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Info Kesehatan Terkait

Tinggalkan komentar

Layanan Gratis Kami

Mau berobat atau check up?

Isi form agar kami bisa menghubungi Anda

Hubungi Kami
1
Butuh bantuan berobat?
Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek biaya berobat di dalam dan luar negeri?