kosmetik berbahaya untuk ibu hamil

Daftar Zat Kosmetik & Skin Care Berbahaya Bagi Ibu Hamil

Sebarkan info ini:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Daftar Isi

Bukan cuma makanan dan minuman, ibu hamil pun perlu selektif memakai produk kecantikan. Sebab ada make up dan skin care yang mengandung zat berbahaya untuk tumbuh kembang janin. 

Namun bukan berarti ibu hamil tidak boleh pakai make up atau skin care sama sekali. 

Hanya saja, ada beberapa zat kimia yang harus dihindari ibu hamil. Apa saja itu? Berikut daftar bahan berbahaya di dalam berbagai produk kecantikan.

Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek kisaran biaya?​

Pakai layanan gratis Smarter Health.

Paraben

Paraben adalah bahan pengawet yang sering terkandung pada produk perawatan wajah dan tubuh. Sebut saja sampo, sabun, deodoran, pasta gigi, deodoran serta kosmetik. 

Meski paraben mampu menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri pada produk, pemakaian secara rutin dan dalam jangka panjang dapat membahayakan, tidak hanya bagi ibu hamil, namun juga bagi bayi, anak-anak, bahkan orang dewasa yang tidak sedang hamil.

Bahaya paraben juga telah diketahui secara mendunia. Beberapa negara telah memberlakukan pelarangan penggunaan paraben dalam kosmetik seperti Komisi Regulasi Uni Eropa pada tahun 2014.

Bahkan, seorang peneliti asal Inggris bernama Philippa D. Darbre, Ph.D menemukan paraben dalam sampel jaringan tumor payudara. Hasil penelitiannya telah diterbitkan dalam Concentration of Parabens in Human Breast Tumor yang dikeluarkan oleh Journal of Applied Toxicology.

Bahaya yang mungkin muncul dari penggunaan produk yang mengandung paraben adalah kemungkinan gangguan pada kesuburan serta kanker kulit. Mengingat bahaya tersebut, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menerbitkan peraturan untuk tingkat paraben yang aman terkandung dalam kosmetik, yaitu berada di angka 250 mg/Kg.

Meski tergolong aman jika kadarnya di bawah batas tersebut, Anda dianjurkan untuk tetap menghindari produk yang mengandung paraben. Paraben dapat menyerap melalui kulit, masuk ke aliran darah, kemudian berdampak pada janin.

Jika terkena pada janin, ada peningkatan potensi bayi mengalami obesitas baik itu saat masih dalam kandungan atau saat ia nanti dewasa. Kemungkinan kelahiran prematur juga akan lebih tinggi mengingat paraben dapat mengganggu hormon reproduksi.

Selalu pilih produk yang terdapat label paraben-free atau terbebas dari paraben. Anda juga dapat membaca daftar kandungan dari produk yang akan Anda beli dan hindari produk yang mengandung methylparaben, butylparaben, ethylparaben, dan propylparaben.

Retinol

Belakangan ini, produk skin care yang mengandung retinol sedang ramai diperbincangkan lantaran khasiatnya sebagai bahan anti-aging. 

Tidak hanya untuk mencegah penuaan dini, retinol dalam skin care juga dikenal dapat meningkatkan produksi kolagen, melancarkan peredaran darah, serta merangsang pertumbuhan sel kulit baru.

Dengan khasiat sebanyak itu, tidak heran banyak yang melirik skin care dengan kandungan retinol. Sayangnya, retinol tidak ramah bagi ibu hamil atau wanita yang sedang merencanakan kehamilan.

Penggunaan retinol telah dilarang oleh European Medicines Agency (EMA) baik itu dalam bentuk obat yang dikonsumsi maupun yang dipakai pada permukaan kulit. Retinol dalam bentuk obat minum, dapat memicu kecemasan, depresi, hingga perubahan mood bagi ibu hamil.

Sedangkan pada produk yang dipakai di permukaan kulit, dapat bersifat teratogenik atau menyebabkan kecacatan pada janin. Dampaknya dapat berupa lambatnya tumbuh kembang janin, terjadi kelainan sistem saraf pusat dan hati, bahkan malformasi tengkorak dan wajah.

Jika Anda sedang hamil atau merencanakan kehamilan, sebaiknya menghindari produk turunan vitamin A lainnya selain retinol, yaitu: 

  • Retinoid
  • Retinyl palmitate, 
  • Retinaldehyde, 
  • Adapalene, 
  • Tretinoin, 
  • Tazarotene, dan 
  • Isotretinoin. 

BHA (Beta Hydroxy Acid)

Selain retinol, skin care yang mengandung BHA (Beta Hydroxy Acid) juga banyak dicari karena efisiensinya untuk mengangkat kulit mati (eksfoliasi). Tidak hanya mengangkat pada lapisan epidermis seperti eksfoliasi yang bersifat fisik, BHA dapat masuk ke lapisan kulit lebih dalam dan melakukan eksfoliasi dengan lebih efektif.

Namun, beredar perdebatan mengenai tingkat keamanan BHA jika digunakan oleh ibu hamil. Terutama mengingat bahwa kadar BHA yang biasanya cukup tinggi dalam produk eksfoliasi, dibandingkan dengan kandungan acid yang juga umum terkandung pada produk eksfoliasi seperti AHA (Alpha Hydroxy Acid). 

Bahayanya pada janin disebut-sebut dapat mengakibatkan keracunan pada ginjal, pendarahan, bahkan cacat saat lahir. Beberapa sumber mengatakan bahwa kadar aman penggunaan BHA pada ibu hamil hanya sebesar 2%.

Karena perdebatan mengenai apakah BHA aman untuk ibu hamil belum menemukan titik terang, jika ibu hamil ingin menggunakan produk eksfoliasi, sebaiknya memilih produk yang mengandung AHA atau glycolic acid yang memang sudah terbukti aman bagi ibu hamil

Hindari juga produk turunan BHA sepert: 

  • 3-hydroxypropionic acid, 
  • Trethocanic acid, dan 
  • Tropic acid. 

Phthalates

Phthalates memiliki sifat yang sama dengan paraben, yaitu tergolong EDC atau endocrine-disrupting chemicals. Bahan kimia yang tergolong EDC merupakan bahan kimia yang dapat mengganggu kinerja hormon reproduksi. Dampaknya, dapat memicu pubertas lebih dini pada janin kelak.

Phthalates biasanya terkandung pada kosmetik untuk memberikan dan menstabilkan wewangian pada produk. Oleh karena itu, sebaiknya ibu hamil memilih produk yang bebas pengharum karena lebih aman pada bayi. Produk demikian biasanya diberi label fragrance-free atau free from fragrance. 

Triclosan

Merasa cukup familiar dengan bahan ini? Triclosan merupakan bahan kimia yang sering disebut-sebut karena sifatnya yang antibakteri. Biasanya, triclosan terkandung dalam sabun mandi, pasta gigi, deterjen, serta deodoran.

Namun, triclosan tidak ramah bagi ibu hamil karena dapat berpengaruh pada sistem endokrin. Pertumbuhan syaraf pada janin dapat terganggu serta dapat mempengaruhi ukuran anatomi tubuh bayi, seperti kepala yang lebih kecil. Bahkan, dalam kadar ekstrem dapat memengaruhi volume otak janin pula.

Kemampuan triclosan untuk membunuh bakteri tidak selalu baik karena ada potensi bakteri baik yang dibutuhkan tubuh ikut terbunuh. Kekebalan tubuh janin pun akan berkurang jika hal tersebut benar-benar terjadi.

Hydroquinone

Hydroquinone biasanya terkandung dalam produk yang memiliki khasiat mencerahkan (brightening) serta anti penuaan (anti-aging). Penelitian pada hewan telah membuktikan bahwa hydroquinone bersifat karsinogenik atau dapat menyebabkan kanker. 

Sampai saat ini, memang belum ada penelitian bahwa hydroquinone dapat menyebabkan kecacatan janin jika dikonsumsi oleh ibu hamil. Meski demikian, tingkat penyerapan hydroquinone terbilang cukup tinggi dibanding AHA dan BHA yaitu mencapai 35%. 

Penelitian mengenai hal  ini telah dimuat dalam situs National Center for Biotechnology Information (NCBI). Oleh karena itu, sebaiknya ibu hamil menghindari produk yang mengandung hydroquinone.

Mineral Oil

Mineral oil dikenal dengan berbagai sebutan yang berbeda, mulai dari minyak parafin (parafin oil), petroleum, atau petroleum jelly. Mineral oil sering terkandung dalam minyak anti stretch-mark.

Mineral oil dianggap tidak baik bagi ibu hamil karena memiliki partikel yang besar dan dapat menyumbat pori-pori. Karena pori-pori tersumbat, tubuh pun tidak dapat mengeluarkan toksin dengan semestinya. Jika proses penyulingan mineral oil juga tidak benar, dapat bersifat karsinogen dan menyebabkan kanker.

Baik bagi mereka yang sedang tidak hamil, mineral oil juga tidak terlalu baik untuk digunakan terutama bagi yang memiliki kulit berminyak lantaran dapat memicu breakout karena pori-pori yang tersumbat. 

Namun bagi yang memiliki kulit kering, biasanya akan mendapat khasiat dari mineral oil, yaitu kelembapan pada kulit yang terjaga.

Formaldehyde

Formaldehyde merupakan bahan lain yang bersifat karsinogen atau memicu kanker. Umumnya, formaldehyde digunakan sebagai zat pengawet dan dapat ditemukan pada sabun, deodoran, dan produk pembersih lainnya.

Kandungan formaldehyde selain dapat memicu kanker, juga dapat memicu iritasi pada kulit, mata, hidung, serta tenggorokan.

Melihat cukup banyak bahan dalam produk kecantikan yang ternyata memiliki potensi bahaya bagi ibu hamil, sebaiknya Anda berkonsultasi kepada dokter mengenai produk apa saja yang aman digunakan oleh Anda. 

Untuk rekomendasi dokter serta membuat janji dengan dokter pilihan Anda di Indonesia, Singapura, dan Malaysia, hubungi Smarter Health.

Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek kisaran biaya?​

Layanan kami 100% gratis!

Sebarkan info ini:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Info Kesehatan Terkait

Tinggalkan komentar

Layanan Gratis Kami

  • Rekomendasi dokter/rumah sakit
  • Buat janji dokter spesialis
  • Hitung estimasi biaya berobat
  • Cari paket medical check up

Mau berobat atau check up?

Isi form agar kami bisa menghubungi Anda

Hubungi Kami
1
Butuh bantuan berobat?
Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek biaya berobat di dalam dan luar negeri?