Bikarbonat

Daftar Isi

Bikarbonat (bicarbonate) adalah bentuk karbon dioksida (CO2). Bikarbonat termasuk dalam kelompok elektrolit, yang membantu menjaga tubuh tetap terhidrasi dan memastikan darah memiliki tingkat keasaman yang tepat. Terlalu banyak atau terlalu sedikit bikarbonat dapat menjadi pertanda sejumlah kondisi, termasuk diare, gagal hati, penyakit ginjal, dan anoreksia.

Bikarbonat terdapat di dalam semua cairan tubuh dan organ dan memiliki peran utama menyeimbangkan asam-basa dalam tubuh. 

Organ pertama yang menyimpan makanan, minuman, dan air dalam tubuh kita adalah perut. Selaput lendir perut manusia memiliki 30 juta kelenjar yang menghasilkan asam lambung dan tidak hanya mengandung asam, tetapi juga bikarbonat. Setidaknya ada setengah gram bikarbonat diproduksi setiap hari di perut kita. Tingkat sekresi bikarbonat lambung ini adalah 2 hingga 10% dari tingkat maksimum sekresi asam. 

Di perut, bikarbonat juga berpartisipasi dalam pembentukan pelindung lendir-bikarbonat (mucus-bicarbonate barrier) yang dianggap sebagai garis pertama dari mekanisme perlindungan dan penyembuhan. 

Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek kisaran biaya?​

Pakai layanan gratis Smarter Health.

Tujuan Tes Bikarbonat 

Ginjal dan paru-paru menstabilkan kadar bikarbonat dalam tubuh. Jika kadar bikarbonat sudah terlalu ekstrim; yaitu terlalu tinggi atau rendah, mungkin ada kemungkinan masalah dengan organ-organ itu. Dengan demikian tes bikarbonat bermanfaat dalam menilai berbagai kondisi yang mempengaruhi kadar bikarbonat darah seperti penyakit paru-paru, gangguan ginjal, dan kondisi metabolisme

Tes bikarbonat biasanya merupakan bagian dari tes besar terhadap kadar elektrolit yang menginformasikan dokter seberapa banyak natrium, kalium, dan klorida dalam tubuh. Dokter akan melakukan tes ini sebagai bagian dari pemeriksaan rutin, atau mencoba mencari tahu penyebab keluhan yang sedang dialami pasien. 

Dokter akan memeriksa kadar CO2 dalam darah jika pasien mengalami:

  • Kesulitan bernafas.
  • Muntah atau diare yang terus menerus.
  • Gampang lelah dan terus merasa lemah.

Jika pasien sedang dirawat karena terdapat kondisi di organ hati, paru-paru, atau pencernaan, dokter kemungkinan akan memeriksa kadar bikarbonat secara teratur untuk melihat apakah terapi atau obat telah bekerja.

Siapa yang Membutuhkan Tes Bikarbonat

Tes bikarbonat dibutuhkan bagi pasien yang perlu mengontrol kadar CO2 di dalam darah. Di dalam darah, kadar CO2 yang terlalu tinggi bisa menjadi pertanda bahwa pasien mengalami penyakit pada organ paru-paru, dehidrasi dan anoreksia. Sementara bila kadar CO2 terlalu rendah, maka ada kemungkinan pasien menderita penyakit di organ ginjal, asidosis metabolik, atau bahkan keracunan aspirin. 

Estimasi Biaya Tes Bikarbonat

Biaya tindakan tes bikarbonat bermacam-macam tergantung dari pada rumah sakit dan klinik yang menyediakan prosedur tersebut. Tiap-tiap rumah sakit dan klinik biasanya memiliki berbagai paket pelayanan yang bisa dipilih oleh pasien tergantung pada kebutuhan diagnosis juga kemampuan finansial pasien. 

Di Indonesia, prosedur tes bikarbonat hampir serupa dengan tes darah lain, mulai dari Rp500.000. Beberapa rumah sakit ada yang menawarkan harga di atas rentang tersebut, dengan pertimbangan opsi yang lebih beragam tentunya. 

Untuk mendapatkan detail biaya pemeriksaan bikarbonat di dalam atau luar negeri, hubungi Smarter Health.

Sebelum Tes Bikarbonat

Secara umum, tidak ada persiapan khusus sebelum melakukan prosedur tes bikarbonat. Namun pasien tetap perlu melakukan berbagai tahap, baik itu administratif maupun medis.  

  • Informasikan kepada dokter jika memiliki peka atau alergi terhadap obat apa pun.
  • Informasikan kepada dokter obat-obatan yang sedang digunakan baik umum maupun resep dokter, baik medis atau pun herbal.
  • Pasien perlu membuat janji dengan dokter untuk melakukan prosedur tes bikarbonat. Pasien dan dokter juga bisa berkonsultasi mengenai prosedur ini. 
  • Dokter perlu mengetahui riwayat kesehatan pasien seperti jika pasien memiliki riwayat gangguan di organ seperti paru-paru, ginjal juga lambung.

Selain tes bikarbonat, pasien juga mungkin memerlukan beberapa tes yang saling berhubungan untuk mendapatkan hasil yang akurat terhadap penyakit yang diderita, tes tersebut adalah: 

  • Tes pH urin.
  • Tes darah anion gap.
  • Analisis gas darah arteri.
  • Pengujian elektrolit (natrium, kalium, dan klorida) sebagai bagian dari panel metabolisme dasar atau komprehensif.

Seluruh pemeriksaan di atas tentu harus disesuaikan dengan kebutuhan diagnosis pasien. Baik pasien dan dokter harus saling proaktif dalam melakukan konsultasi mengenai penyakit dan kebutuhan pasien. 

Walau tidak ada persiapan khusus untuk pasien sebelum melakukan tes, tetapi perlu diketahui, beberapa makanan, khususnya buah-buahan, mengandung kadar asam yang tinggi seperti jeruk dan anggur. Hal tersebut dapat mempengaruhi hasil tes, sehingga perlu menjadi perhatian bagi pasien yang akan melakukan tes. 

Beberapa obat-obatan juga dapat meningkatkan kadar bikarbonat seperti: hidrokortison, fludrokortison, barbiturat, bikarbonat, loop diuretik dan steroid. Obat-obatan yang dapat menurunkan kadar bikarbonat: nitrofurantoin, metisilin, tetrasiklin, diuretik thiazide, dan triamterene. Konsumsi obat tersebut sebelum tes juga dapat mempengaruhi hasil tes.

Selama Tes Bikarbonat

Tes bikarbonat membutuhkan pengambilan sampel darah yang tidak banyak. Darah dapat diperoleh dari arteri di bagian pergelangan tangan, lengan, paha, atau jalur pengambilan darah yang sudah ada jika pasien saat sedang dalam rawat jalan di rumah sakit. Sampel darah juga bisa didapat dari jalur vena.

Dokter akan mensterilkan kulit yang akan disuntik dengan antiseptik. Begitu arteri ditemukan, mereka akan memasukkan jarum ke dalam arteri tersebut dan melakukan pengambilan darah. Pasien mungkin akan merasakan sedikit rasa sakit ketika jarum masuk. Arteri memiliki lapisan otot yang lebih halus daripada vena, dan beberapa orang mungkin akan merasakan rasa sakit bila darah diambil dari arteri. Setelah jarum dilepas, Dokter akan menahan tekanan selama beberapa menit sebelum membalut luka tusukan. Sampel darah kemudian akan dikirim dan dianalisis di laboratorium. 

Sesudah Tes Bikarbonat

Pasien dapat menunggu hasil tes di dalam ruang tunggu. Bila pasien sedang dalam rawat jalan, pasien dapat kembali ke ruangannya sembari menunggu hasil tes tersebut. Hasil tes pasien biasanya akan langsung didiskusikan oleh dokter.

Memahami Hasil Tes Bikarbonat

Tes bikarbonat akan mengukur berapa milimol karbon dioksida dalam satu liter (mmol/L). Hasil normal adalah antara 23 dan 29 mmol/L.

Tingkat CO2 yang rendah dapat menjadi pertanda beberapa kondisi, seperti:

  • Penyakit ginjal.
  • Overdosis aspirin.
  • Asidosis metabolik, yang berarti tubuh membuat terlalu banyak asam.
  • Penyakit Addison, suatu kondisi langka yang memengaruhi kelenjar adrenal penghasil hormon.
  • Keracunan etilen glikol. Bahan kimia ini ada dalam deterjen, cat, dan produk rumah tangga lainnya.
  • Ketoasidosis diabetik, yang terjadi ketika kadar asam darah tubuh naik karena tidak memiliki cukup insulin untuk mencerna gula.

Tingginya CO2 dalam darah dapat menunjukkan:

  • Dehidrasi.
  • Anoreksia.
  • Penyakit paru-paru seperti PPOK, atau penyakit paru obstruktif kronis.
  • Masalah di kelenjar adrenal, seperti sindrom Cushing atau sindrom Conn.

Resiko Tes Bikarbonat

Keuntungan utama dari tes bikarbonat adalah dokter mampu mendapatkan data yang akurat terhadap kandungan kadar CO2 di dalam darah pasien. Hasil tes juga tergolong cepat didapat dan tidak terlalu mahal, sehingga bisa dijangkau oleh masyarakat banyak.

Setiap tes yang menggunakan jarum memiliki beberapa risiko, termasuk pendarahan, infeksi, dan memar. Pasien kemungkinan akan merasakan rasa sakit saat jarum disuntikkan, juga luka suntikan yang akan membekas selama beberapa waktu.

Sebarkan info ini:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Tinggalkan komentar

Layanan Gratis Kami

Mau berobat atau check up?

Isi form agar kami bisa menghubungi Anda

Hubungi Kami
1
Butuh bantuan berobat?
Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek biaya berobat di dalam dan luar negeri?