imunisasi anak

Imunisasi Anak: Mitos, Jenis dan Jadwalnya yang Orang Tua Wajib Tahu

Sebarkan info ini:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Daftar Isi

Jika Anda termasuk orang tua anti vaksin, pastikan keyakinan Anda bukan mitos.

Imunisasi berefek samping demam itu benar. Namun, demamnya anak tak berbahaya, dan berlangsung kurang dari 4 hari. 

Lagipula, memangnya Anda rela menukar demam dengan penyakit lain yang mungkin datang, jika anak tidak diimunisasi?

World Health Organization (WHO) menyebut imunisasi (melalui vaksinasi) membuat seseorang kebal akan suatu penyakit. 

Bahkan, ASI, makanan pendamping ASI, suplemen herbal, atau sumber nutrisi lainnya tidak mampu melindungi anak dari infeksi kuman atau bakteri tertentu. 

Berkat imunisasi, antibodi akan terangsang untuk membentuk kekebalan tubuh dalam mencegah penularan penyakit berbahaya.

Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek kisaran biaya?​

Pakai layanan gratis Smarter Health.

Imunisasi dan Vaksinasi itu Berbeda

Vaksinasi adalah proses memasukkan vaksin (berbentuk virus atau bakteri yang lemah) ke tubuh, yang merangsang daya tahan (antibodi) tubuh membuat benteng pada penyakit tertentu.

Imunisasi adalah proses memperkuat daya tahan tubuh. Ada dua bentuk imunisasi:

  1. Imunisasi aktif, merangsang tubuh membuat sendiri antibodi penyakit.
  2. Imunisasi pasif, memberi tubuh sebuah antibodi penyakit.

Vaksinasi termasuk proses imunisasi aktif yang efeknya bisa berjangka panjang, bahkan seumur hidup. Artinya, sekali manusia divaksin, maka tubuhnya dapat menangkal suatu penyakit untuk waktu yang lama.

Mitos dan Fakta Imunisasi Anak

Mitos mengenai imunisasi yang tersebar di masyarakat seringkali menimbulkan kekhawatiran orang tua. Berikut penjelasan fakta dari mitos imunisasi yang sering terdengar:

Imunisasi berefek samping

Imunisasi memang memiliki efek samping, namun efek samping yang ditimbulkan  dari imunisasi biasanya hanya bertahan selama 3 hingga 4 hari. Efek samping yang dimaksud juga biasanya tergolong tidak membahayakan, seperti demam ringan sampai tinggi serta sedikit lebam pada area suntikan.

Namun orang tua dapat mengantisipasinya dengan memberikan ASI secara teratur kepada anak dan menggunakan pakaian tipis tanpa menyelimuti anak. Jika anak mengalami demam tinggi, orang tua dapat memberikan kompres air hangat dan obat penurun panas setiap 4 jam.

Meski diimunisasi, anak tetap kena penyakit

Imunisasi yang dilakukan pada anak memang tidak menjamin anak akan terbebas dari penyakit. Namun, karena telah memiliki sistem kekebalan tubuh pada penyakit tertentu maka dampak dari penyakit akan lebih ringan jika dibandingkan dengan tanpa imunisasi. 

Tanpa imunisasi, kemungkinan besar anak akan mengalami dampak dari penyakit yang lebih signifikan, mulai dari sakit berat, cacat sampai meninggal.

Imunisasi menyebabkan autisme

Mitos ini seringkali dikaitkan dengan imunisasi MMR (Mumps, Measles, dan Rubella). Namun belum banyak penelitian yang mendukung hal ini. 

Mitos bermula dari laporan seorang dokter spesialis bedah, bernama Wakefield, di tahun 1988. Ia melaporkan efek samping imunisasi MMR menyebabkan autisme. 

Namun, setelah diaudit oleh tim ahli penelitian di Inggris pada tahun 2011, terbukti bahwa Wakefield memalsukan data sehingga kesimpulan yang didapat tidak sesuai.

Imunisasi terlalu banyak tidak baik untuk anak

Rutin memberikan vaksin pada anak tidak akan membahayakan anak. Berdasarkan penelitian, kadar antibodi pada bayi lebih besar jika dibandingkan setelah anak mulai beranjak dewasa. Kadar kekebalan tubuh dari bayi yang sehat bahkan dapat menerima sampai 100.000 imunisasi. Maka pemberian imunisasi wajib yang berkala merupakan prosedur yang aman bagi anak.

Jenis-jenis Imunisasi, Ada yang Bersifat Wajib dan Opsional

Imunisasi wajib

Pemberian imunisasi wajib di Indonesia telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 42 tahun 2013. Imunisasi wajib di Indonesia terdiri dari: 

  • Imunisasi rutin, 
  • Imunisasi tambahan,
  • Imunisasi khusus.

Imunisasi rutin dilakukan pada jangka waktu tertentu dan dilakukan secara berulang sesuai dengan jadwal, atau disebut dengan imunisasi dasar dan imunisasi lanjutan. 

Imunisasi dasar akan dilakukan pada bayi sebelum berusia satu tahun. 

Imunisasi lanjutan akan diberikan pada batita (bayi di bawah tiga tahun), anak usia sekolah dasar, dan wanita pada usia subur.

Jenis imunisasi dasar yang diberikan adalah sebagai berikut.

  • Campak, vaksin untuk mencegah penyakit campak.
  • Polio, vaksin yang diberikan untuk mencegah kelumpuhan.
  • Bacillus Calmette Guerin (BCG), vaksin yang diberikan untuk melindungi anak dari penyakit tuberculosis (TB)
  • Hepatitis B, vaksin yang diberikan pada bayi baru lahir untuk mencegah virus hepatitis B yang menyerang hati.
  • DPT-HB-HiB, vaksin DPT diberikan untuk mencegah penyakit difteri, pertusis dan tetanus, HIB untuk melindungi anak dari infeksi saluran pernapasan berat dan HiB diberikan untuk melindungi dari influenza berat.

Jenis imunisasi lanjutan diberikan berbeda-beda tergantung dari usia anak;

  • Pada batita (bayi di bawah tiga tahun) akan diberikan imunisasi lanjutan DPT-HB-HiB dan campak.
  • Pada usia anak sekolah akan diberikan vaksin Diphtheria Tetanus (DT), Campak dan Tetanus Diphtheria (Td).
  • Imunisasi lanjutan pada wanita usia subur berupa Tetanus Toxoid (TT).

Imunisasi Tambahan

Imunisasi tambahan tetap menjadi penting, namun tidak diwajibkan. Pemberian imunisasi tambahan pada anak bergantung kepada keinginan dari orang tua. 

Prof. dr. Sri Rejeki Hadinegoro, dokter spesialis anak dari RSUPN-FKUI (Rumah Sakit Umum Pusat Nasional – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) mengatakan, dalam menentukan imunisasi tambahan perlu dipertimbangkan beberapa hal. Seperti penyakit apa yang hendak dicegah, ketersediaan vaksin – apakah vaksin tersedia dalam kualitas terbaik dan aman digunakan serta rekomendasikan WHO sebagai penentu program imunisasi di seluruh dunia. 

Beberapa pilihan imunisasi tambahan adalah:

  • MMR, vaksin untuk mencegah gondongan, randang buah zakar, campak dan rubella.
  • Pneumokokus, vaksin untuk mencegah penyakit radang otak atau meningitis.
  • HIB, vaksin yang diberikan untuk mencegah infeksi berat seperti meningitis, pneumonia, radang katup saluran pernapasan, infeksi darah dan radang selaput jantung.
  • HPV, vaksin untuk mencegah kanker leher rahim.
  • Tifoid, vaksin untuk mencegah demam tifoid berat.
  • Varisela, vaksin untuk mencegah penyakit cacar air.

Imunisasi khusus

Imunisasi khusus diberikan untuk melindungi individu pada situasi tertentu. Seperti persiapan pergi ke atau dari daerah mau pun negara dengan kondisi kejadian luar biasa atau wabah penyakit tertentu. 

Adapun imunisasi khusus yang dimaksud adalah:

  • Meningitis meningokokus, imunisasi yang biasanya diberikan sebelum menjalani ibadah haji atau umroh untuk mencegah penyakit ISPA dan meningitis.
  • Demam kuning, imunisasi yang diberikan untuk melindungi dari penyakit demam kuning yang ditularkan dengan perantara nyamuk. Penyakit ini umumnya ditemukan di wilayah Afrika dan Amerika Selatan.
  • Rabies, imunisasi yang diberikan setelah tergigit hewan yang diduga membawa virus rabies.
  • Poliomyelitis, atau vaksin polio untuk mencegah kelumpuhan permanen.

Jadwal Imunisasi Anak 

Berdasarkan sumber rujukan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), berikut jadwal imunisasi bertahap yang harus dilakukan oleh anak usia 0 hingga 18 tahun:

Anak usia 0 hingga 24 bulan (2 tahun)

Jadwal imunisasi anak usia 0 hingga 2 tahun.
Usia 0-24 bulanJenis Imunisasi
0 bulanHepatitis B1, Polio 0, BCG
2 bulanHepatitis B2, Rotavirus 1, Polio 1, HIB 1, PCV1, DPT 1
3 bulanHepatitis B3, Polio 2, DPT 2, HIB 2
4 bulanHepatitis B4, Rotvirus 2, Polio 3, Hib 3, DPT 3, PCV 2
6 bulanPcv 3, Rotavirus 3, Influenza
9 BulanCampak
12 BulanPCV 4, Varisela, Japanese envephalitis
15 bulanHIB 4, MMR 1
18 bulanPolio 4, DPT 4, Campak 2
24 bulanTifoid, Hepatitis A, Japanese encephalitis

Anak usia 3 hingga 18 tahun

Jadwal imunisasi anak usia 3 hingga 18 tahun.
Usia 3-18 tahunJenis Imunisasi
3 tahunHepatitis A2
5 tahunBooster DPT 5, Booster MMR 2, Tifoid 2
6 TahunBooster Campak 3
8 tahunTifoid 3
9-9,5 tahunDengue 1, Dengue 2 (interval 6 bulan)
10-10,5 tahunDengue 3, DPT 6, HPV 1, HPV 2
11 tahunTifoid 4
14 tahunTifoid 5
17 tahunTifoid 6
18 tahunDPT 7

Untuk melakukan konsultasi terkait imunisasi pada anak atau membuat janji imunisasi dengan dokter di dalam dan luar negeri, hubungi Smarter Health.

Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek kisaran biaya?​

Layanan kami 100% gratis!

Sebarkan info ini:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Info Kesehatan Terkait

Tinggalkan komentar

Layanan Gratis Kami

Mau berobat atau check up?

Isi form agar kami bisa menghubungi Anda

Your compare list

Compare
REMOVE ALL
COMPARE
0
Hubungi Kami
1
Butuh bantuan berobat?
Smarter Health
Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek biaya berobat di dalam dan luar negeri?