Kanker Kolorektal

Info Kanker » Tipe Kanker » Kanker Kolorektal

Panduan Lengkap Kanker Kolorektal

Pengertian | Faktor dan Risiko | Gejala | Diagnosis | Perawatan | Efek Samping | Remisi | Kekambuhan | Dukungan

Pengertian Kanker Kolorektal

Kanker kolorektal adalah penyakit ganas yang berasal dari jaringan usus besar dimana terdiri dari kolon (bagian terpanjang usus besar) dan rektum (bagian kecil terakhir dari usus besar sebelum anus). Kasus kanker kolorektal di seluruh dunia menempati urutan ketiga dimana 1.300 dari 100.000 penduduk di dunia mengidap kanker ini.

Selain itu, kanker ini juga menduduki peringkat keempat sebagai penyebab kematian dimana 694 dari 100.000 penduduk termasuk pria dan wanita. Secara keseluruhan, risiko kanker kolorektal terdapat pada 1 dari 20 orang. Risiko penyakit ini cenderung lebih sedikit pada wanita dibandingkan pada pria. Namun, angka kematian kanker kolorektal telah berkurang sejak 20 tahun terakhir. Hal ini berhubungan dengan meningkatnya deteksi dini dan kemajuan teknologi pada penanganan kanker kolorektal.

Faktor dan Risiko Kanker Kolorektal

Dampak dari tumbuhnya sel-sel abnormal merupakan penyebab dari segala jenis kanker. Pun juga kanker kolorektal, sampai saat ini tenaga medis juga belum mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan sel-sel abnormal tersebut tumbuh berkembang tidak terkendali di dalam tubuh. Walaupun begitu, beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui faktor yang dapat memicu tumbuhnya kanker kolorektal.

  • Faktor Usia

Risiko penyakit kanker kolorektal akan meningkat seiring bertambahnya usia seseorang. Menurut penelitian, lebih dari 90% kasus kanker kolorektal dialami oleh seseorang yang berusia 50 tahun atau lebih, baik pria maupun wanita.

  • Riwayat Penyakit

Seseorang di usia lebih dari 50 tahun dan memiliki riwayat penyakit kanker atau polip kolorektal lebih berisiko terdampak kanker kolorektal. Hal ini juga berpengaruh pada seseorang yang memiliki riwayat keturunan keluarga yang pernah mengalami penyakit kanker atau polip kolorektal.

  • Radang Usus

Selain usia dan riwayat penyakit, jika seseorang pernah mengalami radang usus seperti kolitis ulseratif atau penyakit crohn, kanker kolorektal lebih berisiko terdampak pada seseorang tersebut.

  • Gaya Hidup

Tingkat kesehatan seseorang tentu saja dapat terlihat dari gaya hidup sehari-hari. Jika gaya hidup seseorang kurang olahraga, kurang asupan serat dan buah-buahan, sering konsumsi minuman beralkohol, obesitas atau berat badan berlebihan dan merokok juga dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal.

Gejala Kanker Kolorektal

Pada dasarnya kanker di tahap awal belum menunjukan gejala yang berarti bagi seseorang yang mengidap kanker kolorektal. Gejala kanker cukup bervariasi tergantung ukuran dan area tumbuhnya kanker. Beberapa gejala kanker kolorektal diantaranya:

  • Perubahan kebiasaan buang air besar, diare atau konstipasi
  • Merasa mual atau muntah
  • Masalah buang air besar yang tidak tuntas
  • Merasa sangat lelah sepanjang waktu
  • Menemukan darah pada tinja
  • Tinja berukuran lebih kecil daripada biasanya
  • Sering mengalami nyeri akibat gas atau kram, atau perut terasa penuh dan kembung
  • Mengalami penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas

Apa yang Harus Dilakukan Jika Memiliki Gejala atau Diagnosa Kanker Kolorektal?

Penting bagi seseorang dengan gejala kanker kolorektal melakukan deteksi dini atau skrining untuk membuang lesi prakanker dan mendeteksi penyakit pada stadium dini sehingga dapat dilakukan terapi kuratif. Pasien dengan gejala kanker kolorektal dapat melakukan deteksi dini atau pilihan pemeriksaan skrining. Pilihan skrining yang dapat dilakukan diantaranya:

  • FOBT (Fecal Occult Blood Test) atau FIT (Fecal Immunochemical Test)

Skrining FOBT (Fecal Occult Blood Test) bertujuan untuk mengetahui apakah ada darah yang tak terlihat pada feses melalui mikroskop. FOBT sebaiknya perlu dilakukan satu kali dalam setahun. Dimana FOBT ini salah satunya adalah FIT (Fecal Immunochemical Test) dimana sampel feses dicampur dengan cairan khusus, kemudian dimasukan ke mesin yang mengandung antibodi untuk memeriksa darah pada feses.

  • Sigmoidoskopi

Sigmoidoskopi merupakan prosedur test yang memasukan selang tipis—yang dilengkapi lampu dan kamera—dari anus ke bagian bawah kolon, untuk melihat apakah terdapat polip atau kanker. Alat ini juga dilengkapi untuk membuang polip guna diperiksa di mikroskop. Test ini umumnya dilakukan setiap 5-10 tahun sekali, disertai test FIT setiap tahun.

  • Kolonoskopi

Prosedur ini kurang lebih mirip dengan Sigmoidoskopi, namun prosedur ini menggunakan selang yang lebih panjang untuk memeriksa bagian dalam rektum dan seluruh bagian usus besar. Jika selama tes berjalan ditemukan polip atau kanker, dokter akan membuang polip atau kanker tersebut. Prosedur tes kolonoskopi ada baiknya dilakukan setiap 10 tahun sekali.

  • CT Kolonografi

Sesuai namanya, prosedur test ini menggunakan mesin CT scan untuk menunjukan gambar usus besar secara keseluruhan kemudian tenaga medis akan menalisis apa yang terjadi. Setelah pemeriksaan dilakukan, selanjutnya dilakukan proses penentuan stadium atau tahap pertumbuhan kanker. Jenis pemeriksaan yang dapat dipilih diantaranya rontgen, CT scan, PET scan atau MRI.

Pertanyaan Umum Jika Terdiagnosa Kanker Kolorektal

  1. Apakah pendarahan disertai peningkatan frekuensi buang air besar merupakan gejala kanker kolorektal?
  2. Berapa lama saya dapat bertahan hidup ketika terdiagnosa kanker kolorektal?
  3. Bagaimana keadaan tumor, letak tumor, ukuran tumor dan mobilitas tumor terjadi pada tubuh saya?

Perawatan Kanker Kolorektal

Dalam perawatan kanker, dokter-dokter dari setiap spesialis yang berbeda biasanya bekerja sama untuk membuat rencana perawatan pasien kanker dimana mencakup atau menggabungkan berbagai jenis perawatan. Untuk kanker kolorektal, beberapa dokter yang terlibat biasanya terdiri dari ahli bedah, ahli onkologi medis, ahli onkologi radiasi dan ahli gastroenterologi. Selain itu, untuk spesialis perawatan kanker terdiri dari berbagai tenaga kesehatan profesional seperti asisten dokter, perawat, apoteker, konselor, ahli diet, dan lain sebagainya.

Pilihan perawatan kanker kolorektal tergantung dari berbagai faktor, termasuk jenis kanker, efek samping dan stadium kanker. Pada akhirnya, akan diambil keputusan bersama untuk perawatan kanker.

Operasi Bedah

Pilihan operasi bedah bertujuan untuk mengangkat tumor dan beberapa jaringan. Operasi bedah merupakan pengobatan atau perawatan paling umum untuk kanker kolorektal. Adapun jenis operasi bedah diantaranya:

  • Operasi Laparoskopi

Beberapa pasien kanker kolorektal mungkin dapat menjalani operasi laparoskopi. Dengan operasi ini, beberapa ruang di dalam perut dapat terlihat dimana pasien akan dibius dengan anestesi atau obat yang menghilangkan kesadaran akan rasa sakit. Pada operasi ini akan dilakukan sayatan kecil untuk mengangkat kanker. Ahli bedah pada operasi laparoskopi sudah terlatih secara khusus.

  • Operasi Kolostomi

Agak jarang pasien kanker kolorektal menjalani operasi kolostomi. Operasi ini adalah pembukaan bedah usus besar yang terhubung ke permukaan perut untuk mengeluarkan feses dari tubuh. Namun terkadang operasi kolostomi bersifat sementara agar rektum kembali seperti semula. Dengan teknik pembedahan modern dan penggunaan terapi radiasi serta kemoterapi, operasi kolostomi permanen seringkali tidak diperlukan untuk pengobatan kanker kolorektal. 

  • Radiofrequency Ablation (RFA) atau Cryoablation

Beberapa pasien kanker kolorektal dengan tumor yang sudah menyebar ke area hati atau paru-paru perlu menjalani operasi khusus untuk mengangkat tumor tersebut. Perawatan opsional ini merupakan perawatan yang menggunakan energi dalam bentuk gelombang frekuensi radio untuk memanaskan tumor. Teknik pengobatan ini disebut RFA atau pengobatan untuk membekukan tumor (Cryoablation). Tidak semua tumor hati atau paru-paru dapat diobati dengan pendekatan ini. Namun, operasi biasa juga seringkali meninggalkan bagian tumor di dalam tubuh. Maka diperlukan perawatan operasi RFA ini.

Bagaimana Efek Samping Setelah Operasi Dilakukan?

Sangat disarankan sebelum melakukan operasi, diskusikan dengan perawat kesehatan Anda tentang kemungkinan efek samping dari operasi tertentu yang akan Anda alami dan tanyakan bagaimana efek samping yang dapat dicegah atau dikurangi.

Secara umum, efek samping dari operasi meliputi nyeri di area pembedahan. Operasi juga dapat menyebabkan sembelit atau diare yang biasanya hilang setelah beberapa saat. Jika pasien menjalani operasi kolostomi, kemungkinan efek sampingnya akan mengalami iritasi di sekitar stoma. Penting untuk dokter, perawat atau spesialis dalam operasi kolostomi untuk mengajari Anda cara membersihkan area tersebut agar tidak terjadi infeksi.

Banyak orang perlu melatih kembali usus mereka setelah operasi. Hal ini mungkin membutuhkan waktu dan bantuan. Anda harus berbicara dengan dokter Anda jika Anda tidak dapat mengendalikan kembali fungsi usus besar dengan baik.

Pertanyaan Umum Terkait Operasi Kanker Kolorektal

Penting bagi pasien menanyakan apa saja kepada dokter atau ahli bedah ketika sebelum atau setelah operasi dilakukan. Berikut pertanyaan yang sering muncul diantaranya:

  • Apa persiapan yang harus dilakukan sebelum operasi?
  • Jika efek samping operasi berkelanjutan, apa yang harus dilakukan?
  • Jenis operasi apa yang cocok untuk kondisi saya?

Radioterapi

Jenis radioterapi atau terapi radiasi adalah penggunaan sinar-X dengan energi tinggi untuk menghancurkan sel-sel kanker. Untuk kanker kolorektal, radioterapi dilakukan sebelum pembedahan agar tumor lebih mudah untuk diangkat ketika operasi dilakukan. Namun, radioterapi juga dapat dilakukan setelah pembedahan agar sel kanker hancur tidak bersisa. Kedua pendekatan tersebut sejauh ini telah berhasil mengobati penyakit kanker kolorektal. 

Bagaimana Efek Samping Setelah Radioterapi Dilakukan?

Hal yang penting untuk diketahui pasien dan masyarakat awam adalah kebanyakan pengobatan kanker memiliki efek samping. Setiap proses yang dilakukan akan memberikan dampak di kemudian hari bagi seorang pasien. Efek samping dapat muncul secara berbeda-beda pada setiap pasien kanker tergantung tubuh pasien yang terkena radiasi selama proses pengobatan berjalan.

Tentu saja, walaupun begitu, efek samping ini bersifat sementara dan dapat dikendalikan oleh seorang pasien tersebut dengan melalui beberapa tahap yang kemudian akan disarankan oleh dokter. Efek samping yang muncul biasanya terjadi di beberapa bagian tubuh seperti:

  • Kepala. Radioterapi yang dilakukan di area kepala dapat memberikan efek samping seperti kerontokan pada rambut, mulut dan tenggorokan kering, air liur mengental, sakit tenggorokan, sulit menelan makanan, perubahan rasa pada lidah saat mengonsumsi makanan, mual, sariawan dan kerusakan pada gigi.
  • Dada. Terapi radiasi yang dilakukan pada bagian dada dapat memberikan efek samping seperti nyeri dada, sesak, batuk dan kesulitan menelan makanan.
  • Perut. Terapi radiasi pada bagian perut biasanya dapat memberikan efek samping berupa mual, muntah dan diare serta beberapa area nyeri di bagian perut.
  • Panggul. Tidak hanya bagian perut, bagian panggul juga sering dijadikan area terapi radiasi yang dapat memberikan efek samping setelah terapi dilakukan. Beberapa efek samping yang sering terjadi diantaranya iritasi kantung kemih, sering buang air kecil, diare dan disfungsi seksual. 

Berbagai efek samping setelah terapi radiasi biasanya akan berkurang pada beberapa hari atau beberapa minggu. Namun, terapi radiasi atau radioterapi juga dapat memberikan efek samping jangka panjang. 

Pertanyaan Umum Terkait Radioterapi

Penting bagi pasien menanyakan apa saja kepada dokter atau ahli bedah ketika sebelum atau setelah radioterapi dilakukan. Berikut pertanyaan yang sering muncul diantaranya:

  • Berapa lama radioterapi dilakukan? Apakah dilakukan sebelum operasi atau sesudah operasi?
  • Jika efek samping radioterapi berkelanjutan, apa yang harus dilakukan?
  • Apa yang harus saya lakukan setelah radioterapi?

Kemoterapi

Kemoterapi merupakan salah satu cara penyembuhan kanker dengan menggunakan obat-obatan yang dapat membunuh dan menghentikan perkembangan sel kanker. Jadwal kemoterapi biasanya terdiri dari sejumlah siklus tertentu yang diberikan selama periode waktu tertentu. Bagi sebagian pasien kanker kolorektal, dokter akan memberikan kemoterapi sebelum pembedahan untuk memperkecil ukuran tumor rektal dan mengurangi kemungkinan kembalinya kanker. Dokter mungkin akan merekomendasikan satu obat atau lebih selama perawatan berlangsung. Beberapa obat untuk mengobati kanker kolorektal diantaranya:

  • Capecitabine (Xeloda)
  • Fluorouracil (5-FU)
  • Irinotecan (Camptosar)
  • Oxaliplatin (Eloxatin)
  • Trifluridine/tipiracil (Lonsurf)

Bagaimana Efek Samping Setelah Kemoterapi Dilakukan?

Selain paling efektif menyembuhkan kanker, kemoterapi juga memiliki efek samping bagi pasien yang menerimanya. Efek samping pada pasien terjadi berbeda-beda pada setiap orang dan termasuk tingkat efeknya. Gejala efek samping kemoterapi muncul diakibatkan obat-obatan yang tidak memiliki kemampuan untuk membedakan sel kanker dan sel baik. Efek sampingnya, sel baik pada tubuh yang di sekitar kanker menimbulkan kerusakan seperti:

  • Rambut rontok
  • Kehilangan nafsu makan
  • Penurunan berat badan
  • Mual
  • Sesak nafas
  • Kulit kering
  • Pendarahan; gusi berdarah, mimisan, dan lain sebagainya
  • Sering terkena infeksi
  • Gangguan psikologis; depresi, stres, cemas
  • Gairah seksual menurun
  • Diare
  • Sariawan

Adapun efek samping yang serius yang kadang terjadi adalah tingkat sel darah putih menurun dengan cepat sehingga meningkatkan risiko infeksi. Karena itu, salah satu tindakan yang harus dilakukan setelah kemoterapi adalah hindari orang-orang sekitar yang sedang sakit atau terkena infeksi. Jika setelah kemoterapi, pasien mengalami efek samping tersebut, segera hubungi dokter untuk penindakan lebih lanjut.

Pertanyaan Umum Terkait Kemoterapi

Penting bagi pasien menanyakan apa saja kepada dokter atau ahli bedah ketika sebelum atau setelah kemoterapi dilakukan. Berikut pertanyaan yang sering muncul diantaranya:

  • Jika saya mengidap penyakit lain, apakah aman mengkonsumsi obat kemoterapi?
  • Apakah ada efek samping dari obat kemoterapi?
  • Apakah ada pantangan makanan selama mengkonsumsi obat kemoterapi?

Apa Itu Remisi?

Di dalam istilah medis, penyakit kanker tidak bisa dikatakan sembuh atau bahkan sembuh total. Namun istilah yang diberikan pada penyakit kanker yakni remisi atau survival rate. Jika pasien kanker sudah melakukan tahap terapi dan telah dianggap tidak memiliki sel kanker lagi di dalam tubuhnya, maka hal itu disebut remisi.

Pada masa remisi, pasien harus tetap melakukan kontrol secara teratur dan tetap menjaga tubuhnya agar selalu sehat. Pada praktiknya, dokter tidak dapat menentukan berapa lama lagi seorang pasien dapat bertahan hidup setelah kankernya hilang dari dalam tubuh. Namun, yang dinilai adalah kesempatan pasien tersebut untuk bisa tetap bertahan hidup dalam lima tahun kedepan. Hal ini disebut angka survival rate yang penting untuk diketahui oleh pasien.

Berapa Lama Remisi Dapat Bertahan?

Seperti yang disebutkan sebelumnya, penilaian dokter untuk pasien kanker dapat bertahan dalam lima tahun kedepan. Jika perlu mengetahui berapa lama remisi dapat bertahan, jawabannya adalah tergantung level stadium kanker pada pasien itu sendiri. Jika pasien mengalami kanker kolorektal stadium 1 survival rate dapat mencapai 5 tahun atau lebih. Namun, kembali lagi ke poin awal bahwa walaupun pasien sudah sudah menjalani pengobatan dan melewati masa remisi, pasien harus tetap kontrol ke dokter spesialis untuk mengantisipasi tumbuhnya kanker kembali.

Apa Yang Harus Dilakukan Selama Remisi?

Jika merujuk pada poin sebelumnya, selama masa remisi atau survival rate seorang pasien kanker harus melakukan kontrol secara rutin dan tetap menjaga kesehatan tubuhnya. Apalagi di masa pandemi Covid-19 sekarang ini, pasien kanker harus diutamakan dalam menjaga kebutuhan nutrisi dalam tubuhnya. Menjaga pola hidup sehat juga salah satu cara utama dalam menjaga pertumbuhan kanker selama masa remisi berjalan.

Selain itu, pola hidup sehat lainnya untuk pasien kanker selama masa remisi adalah dengan cara berolahraga rutin, tidur yang cukup dan mengelola stres. Hal penting juga yaitu menjaga kebutuhan cairan dalam tubuh agar terhindar dari dehidrasi, dimana masalah kesehatan dapat timbul jika pasien kanker dehidrasi seperti diare dan muntah akibat efek pengobatan kemoterapi.

Apa Gejala Kanker Bisa Kambuh?

Terlepas dari apapun pengobatan yang sudah dijalankan oleh pasien, tidak dapat dipungkiri kanker bisa kambuh sewaktu-waktu. Pun halnya dokter juga tidak dapat memastikan apakah pasien kanker yang sudah menjalani rangkaian pengobatan dapat menghilangkan 100% kanker dalam tubuh. Kemungkinannya adalah jumlah sel kanker sangat sedikit sehingga sulit ditemukan atau sel kanker tidak aktif dan berkembang.

Kanker bisa saja kambuh setelah 1 tahun penderita kanker tidak mengalami gejala apapun. Penyebab kambuhnya kanker adalah pengobatan kanker sebelumnya tidak mampu menghancurkan seluruh sel kanker dalam tubuh. Terdapat sisa-sisa sel minor yang tetap bisa tumbuh menjadi tumor seiring berjalannya waktu.

Namun, kemungkinan tersebut tidak lah berarti bahwa pengobatan kanker tidak efektif membunuh sel kanker dalam tubuh. Kemungkinan tersebut diluar kendali bahwasanya terdapat sel-sel kanker yang bersifat agresif dan hanya dibuat tidak aktif sementara.

Apa Yang Harus Dilakukan Jika Kanker Kambuh?

Jika kanker kambuh bersifat lokal artinya masih bisa disembuhkan. Dan jika kanker yang kambuh sudah menyebar dan merusak organ tubuh lain, pengobatan yang dilakukan harus tepat agar dapat membantu mengecilkan dan menghambat pertumbuhan kanker tersebut. Tidak mudah memang untuk menyembuhkan kanker, tapi setidaknya tindakan-tindakan tersebut dapat mengurangi rasa sakit dan meningkatkan survival rate pasien kanker tersebut.

Pengobatan yang dilakukan untuk setiap pasien yang mengalami kekambuhan kanker berbeda-beda, tergantung jenis dan tingkat parahnya kanker itu sendiri. Penting bagi pasien untuk mempertimbangkan efek samping dari pengobatan kanker tersebut.

Dukungan Apa Saja Yang Diperlukan Selama Masa Perawatan Kanker?

Sering terjadi depresi pada seseorang yang didiagnosis kanker. Kondisi tersebut berlanjut pada perasaan sedih, putus asa dan stres. Dalam fase tersebut, dukungan menjadi hal yang sangat penting bagi seorang pejuang kanker.

Kebalikannya, orang di sekitar pejuang kanker seringkali meningkatkan tingkat kepeduliannya. Namun terkadang niat baik untuk menyemangati justru membuat tingkat semangat seorang pejuang kanker semakin menurun. Penting untuk cermat dalam menyemangati pasien kanker agar tidak salah langkah.

Menyemangati seorang pejuang kanker dengan cara yang benar seperti:

  • Bertindak seperti biasa dan tidak berlebihan dalam memberikan perhatian
  • Meluangkan waktu untuk menemani dalam memotivasi pasien kanker
  • Tidak menghakimi dalam memberikan masukan, kurangi berkomentar dan tetap dukung apa yang penderita kanker lakukan selama tidak bertentangan dengan saran dokter
  • Jadilah pendengar yang baik
  • Ceritakan kisah kesembuhan pada pasien kanker yang lain
Referensi:
American Society of Clinical Oncology (ASCO). 2021. Colorectal Cancer.
Web MD. Colorectal Cancer Health Center.
Icon Cancer Centre. Colorectal Cancer.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Panduan Penatalaksanaan Kanker Kolorektal.

Artikel Sebelumnya

Kanker Payudara

Artikel Selanjutnya

Kanker Limfoma