Kanker Payudara

Info Kanker » Tipe Kanker » Kanker Payudara

Panduan Lengkap Kanker Payudara

Pengertian | Faktor dan Risiko | Gejala | Diagnosis | Perawatan | Efek Samping | Remisi | Kekambuhan | Dukungan

Pengertian Kanker Payudara

Kanker payudara adalah penyakit di mana sel-sel ganas (kanker) terbentuk di jaringan payudara. Pembentukan sel kanker berawal dari sel sehat di payudara yang tumbuh di luar kendali hingga membentuk tumor. 

Tumor dapat bersifat jinak atau ganas. Jika tumor bersifat ganas (kanker), maka bisa menyebar ke bagian tubuh lainnya, misalnya ke organ yang berdekatan atau bagian tubuh lain melalui pembuluh darah dan/atau pembuluh getah bening. Penyebaran ini disebut metastasis.

Di artikel berikut, Anda akan mendapatkan informasi detail mengenai kanker payudara beserta panduan penanganannya, mencakup faktor risiko, gejala, pilihan penanganan, efek samping penanganan, hingga cara mencegah kekambuhan.

Apa Saja Stadium Kanker Payudara?

Pada stadium 0, sel-sel kanker ditemukan pada lapisan duktus payudara. Sel-sel tersebut belum menyebar di luar saluran ke jaringan lain di payudara.

Pada stadium IA, tumor berukuran 2 cm atau lebih kecil dan belum menyebar di luar payudara. Pada stadium IB, tidak ditemukan tumor di payudara atau tumor 2 cm atau lebih kecil. Kelompok kecil sel kanker (lebih besar dari 0,2 milimeter tetapi tidak lebih dari 2 milimeter) didapatkan di kelenjar getah bening.

Pada stadium IIA:

  • Tidak ada tumor yang ditemukan di payudara atau tumornya 2 cm atau lebih kecil. Kanker (lebih dari 2 milimeter) ditemukan di 1 sampai 3 kelenjar getah bening aksila atau di kelenjar getah bening dekat tulang dada (ditemukan selama biopsi kelenjar getah bening sentinel); atau
  • Tumor lebih besar dari 2 cm tetapi tidak lebih dari 5 cm. Kanker belum menyebar ke kelenjar getah bening.

Pada stadium IIB, tumornya:

  • Lebih besar dari 2 cm tetapi tidak lebih dari 5 cm. Kelompok kecil sel kanker payudara (lebih besar dari 0,2 milimeter tetapi tidak lebih besar dari 2 milimeter) ditemukan di kelenjar getah bening; atau
  • Lebih besar dari 2 cm tetapi tidak lebih dari 5 cm. Kanker telah menyebar ke 1 sampai 3 kelenjar getah bening aksila atau ke kelenjar getah bening dekat tulang dada (ditemukan selama biopsi kelenjar getah bening sentinel); atau
  • Lebih dari 5 cm. Kanker belum menyebar ke kelenjar getah bening.

Pada stadium IIIA:

  • Tidak ada tumor yang ditemukan di payudara atau tumor mungkin ukuran apa pun. Kanker ditemukan pada 4 sampai 9 kelenjar getah bening aksila atau di kelenjar getah bening dekat tulang dada (ditemukan saat tes pencitraan atau pemeriksaan fisik); atau
  • Tumornya lebih dari 5 cm. Kelompok kecil sel kanker payudara (lebih besar dari 0,2 milimeter tetapi tidak lebih besar dari 2 milimeter) ditemukan di kelenjar getah bening; atau
  • Tumornya lebih dari 5 cm. Kanker telah menyebar ke 1 sampai 3 kelenjar getah bening aksila atau ke kelenjar getah bening dekat tulang dada (ditemukan selama biopsi kelenjar getah bening sentinel).

Pada stadium IIIB, tumor bisa berukuran apa saja dan kanker telah menyebar ke dinding dada dan/atau ke kulit payudara dan menyebabkan pembengkakan atau ulkus. Juga, kanker mungkin telah menyebar hingga ke 9 kelenjar getah bening aksila atau kelenjar getah bening di dekat tulang dada.

Pada stadium IIIC, tumor tidak ditemukan di payudara atau tumor mungkin berukuran apa saja. Kanker mungkin telah menyebar ke kulit payudara dan menyebabkan pembengkakan atau ulkus dan/atau menyebar ke dinding dada. Kanker juga telah menyebar ke 10 atau lebih kelenjar getah bening aksila, atau kelenjar getah bening di atas atau di bawah tulang selangka, atau kelenjar getah bening aksila dan kelenjar getah bening dekat tulang dada.

Pada stadium IV, kanker telah menyebar ke organ tubuh lainnya, paling sering tulang, paru-paru, hati, atau otak.

Apa Saja Jenis Kanker Payudara?

Kanker payudara terdiri dari beberapa jenis, yang umum maupun langka. Tiga di antaranya adalah:

  1. Invasive ductal carcinoma (IDC)

Invasive ductal carcinoma (IDC) atau karsinoma duktal merupakan jenis kanker payudara paling umum. Jenis kanker payudara ini berawal dari duktus sus yang kemudian menyebar ke jaringan payudara yang lain.

  1. Invasive lobular carcinoma (ILC)

Invasive lobular carcinoma (ILC) atau karsinoma lobular berawal dari kelenjar susu yang disebut lobus atau lobulus.

  1. Inflammatory breast cancer (IBC)

Inflammatory breast cancer (IBC) atau kanker payudara inflamasi adalah jenis kanker payudara yang tidak umum di mana payudara terasa hangat, merah, dan bengkak.

Selain itu, terdapat pula beberapa jenis kanker payudara menurut reseptor hormonnya. Subtipe ini baru diketahui setelah dilakukan pengujian terhadap tumor untuk menemukan keberadaan dan jenis reseptor yang ada pada kanker.

Berdasarkan reseptornya, kanker payudara dapat dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu:

  • ER +, di mana kanker payudara memiliki reseptor estrogen
  • PR +, di mana kanker payudara memiliki reseptor progesteron
  • HR +, di mana kanker payudara memiliki satu atau kedua reseptor di atas
  • HR-, di mana kanker payudara tidak memiliki reseptor ini
  • HER2 positif atau negatif, di mana kanker payudara menunjukkan keberadaan protein yang mendorong pertumbuhan sel kanker. Pada kanker payudara positif HER2, kadar HER2 lebih tinggi dari biasanya.

Dari keberadaan dan jenis reseptor hormonnya, ada tiga kondisi kanker payudara yang umum terjadi.

  1. Kanker payudara HR positif HER2 negatif

Artinya, kanker memiliki reseptor estrogen atau progesteron tetapi tidak menunjukkan gen HER2 berlebihan. Ini merupakan jenis kanker payudara yang paling umum terjadi. Jenis kanker payudara ini biasanya dirawat dengan menggunakan terapi hormon.

  1. Kanker payudara HER2 positif 

Kanker ini lebih sering terjadi pada wanita di bawah usia 60 tahun. Kanker payudara HER2 positif  sering menyebar lebih cepat daripada kanker payudara lainnya. Jenis kanker ini cocok ditangani dengan terapi tertarget.

  1. Kanker payudara negatif rangkap tiga

Kanker payudara negatif rangkap tiga atau triple negative breast cancer tidak memiliki tiga protein yang biasanya ditemukan pada sel kanker payudara, yaitu reseptor estrogen, progesteron dan HER2. Jenis kanker ini lebih sering terjadi pada wanita di bawah 40 tahun atau yang memiliki mutasi gen BRCA1.

Apa Saja Faktor Risiko Kanker Payudara?

Faktor risiko merupakan kondisi yang meningkatkan peluang seseorang terkena penyakit. Meski begitu, memiliki faktor risiko kanker tidak berarti orang tersebut pasti terkena kanker. Sebaliknya, tidak memiliki faktor risiko kanker bukan berarti seseorang tidak akan terkena kanker. 

Faktor risiko untuk kanker payudara antara lain:

  • Gender. Pria bisa terkena kanker payudara juga, tetapi peluangnya jauh lebih kecil dibandingkan wanita.
  • Memiliki riwayat kanker payudara pada keluarga, terutama saudara tingkat pertama (ibu, anak perempuan, atau saudara perempuan).
  • Memiliki mutasi gen BRCA1 atau BRCA2.
  • Menstruasi pada usia dini.
  • Usia yang lebih tua saat kelahiran pertama atau tidak pernah melahirkan.
  • Mulai menopause pada usia lanjut.
  • Meminum hormon seperti estrogen dikombinasikan dengan progestin untuk gejala menopause.
  • Pernah menjalani perawatan terapi radiasi ke payudara/dada.
  • Minum alkohol.
  • Obesitas.
  • Usia tua. Wanita di atas 50 tahun lebih berisiko terkena kanker dibanding wanita berusia 30 tahun.

Apa Saja Gejala Awal Kanker Payudara?

Walaupun tanda-tanda berikut juga mungkin menunjukkan adanya penyakit lain, segeralah periksa ke dokter jika menemukannya pada tubuh Anda.

  • Muncul benjolan atau penebalan di atau dekat payudara atau di area ketiak.
  • Ukuran atau bentuk payudara berubah.
  • Terdapat lesung atau kerutan di kulit payudara.
  • Puting terbenam ke dalam ke payudara.
  • Keluar cairan selain ASI dari puting, terutama jika berdarah.
  • Kulit bersisik, merah, atau bengkak pada payudara, puting, atau areola (area gelap kulit di sekitar puting).

Apa yang Harus Dilakukan Jika Memiliki Gejala Kanker Payudara?

Periksakan ke dokter. Dokter biasanya akan melakukan beberapa tes untuk mendeteksi apakah gejala tersebut benar disebabkan oleh kanker payudara.

Beberapa tes yang mungkin dilakukan dokter, di antaranya:

  • Pemeriksaan fisik dan riwayat

Pemeriksaan untuk memeriksa tanda-tanda penyakit, seperti benjolan atau apa pun yang tampak tidak biasa pada tubuh pasien. Dokter juga dapat menanyakan mengenai riwayat kesehatan dan penyakit serta perawatan yang pernah dijalani pasien sebelumnya.

  • Mammografi

Mammografi atau disebut juga mammogram merupakan tes pemindaian (imaging) yang menampilkan gambaran kelenjar dan jaringan payudara. Melalui metode ini, dokter dapat mengevaluasi tanda-tanda seperti benjolan payudara atau cairan bukan ASI yang keluar dari puting.

  • USG Payudara

Pemeriksaan USG payudara menggunakan gelombang suara berenergi tinggi (ultrasound) yang dipantulkan dari jaringan atau organ internal. Pantulan ini kemudian menghasilkan gema yang membentuk gambar jaringan tubuh yang disebut sonogram.

USG payudara dapat membedakan antara massa padat yang mungkin merupakan kanker, dan kista berisi cairan yang biasanya bukan kanker.

  • MRI (Magnetic Resonance Imaging)

MRI menggunakan magnet, gelombang radio, dan komputer untuk membuat serangkaian gambar detail dari kedua payudara. Sebelumnya, dokter yang melakukan pemeriksaan akan menyuntikkan pewarna khusus (kontras) ke pembuluh darah pasien. Prosedur ini dapat digunakan sebagai metode skrining sebelum diagnosis, maupun selama perawatan untuk mengetahui perkembangan sel kanker di payudara.

  • Biopsi

Merupakan pengangkatan sel atau jaringan tumor supaya dapat dilihat di bawah mikroskop oleh ahli patologi untuk memeriksa tanda-tanda kanker. Biopsi dapat mengetahui apakah tumor payudara bersifat ganas (kanker) atau jinak. Selain itu, biopsi juga berguna untuk menentukan jenis reseptor hormon dan stadium kanker yang mungkin ditemukan di tubuh pasien.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Didiagnosis Kanker Payudara?

Tanyakan beberapa pertanyaan berikut kepada dokter Anda untuk mengetahui lebih jelas kondisi kanker dan langkah penanganan yang harus diambil.

  • Stadium berapa kanker tersebut?
  • Apa jenis kanker payudara tersebut?
  • Bagaimana status reseptor hormonnya?
  • Apakah ada pemeriksaan lain yang masih harus dijalani?
  • Apakah perlu menemui dokter dari spesialisasi yang lain?
  • Apa saja opsi perawatan yang tersedia dan apa tujuan masing-masing perawatan tersebut?
  • Apa opsi perawatan yang dokter rekomendasikan untuk saya?
  • Menurut saran dokter, kepada siapa saya harus mencari pendapat medis kedua?
  • Siapa saja yang akan terlibat dalam perawatan saya?
  • Bagaimana saya harus mempersiapkan diri untuk melakukan perawatan?
  • Bagaimana risiko saya terkena kanker sekunder?
  • Jika saya punya atau sedang dalam perawatan penyakit lain, apakah akan mempengaruhi perawatan kanker saya?
  • Jika muncul kanker sekunder, apakah perawatan yang saya jalani akan berubah?
  • Jika nanti saya punya pertanyaan, kepada siapa saya dapat bertanya?
  • Lewat cara apa saya bisa berkomunikasi dengan dokter di luar waktu perawatan?
  • Siapa yang bisa membantu saya mendiskusikan masalah biaya perawatan dan cakupan manfaat asuransi?

Apa Saja Pilihan Perawatan untuk Kanker Payudara?

Pilihan perawatan kanker payudara ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Ukuran tumor
  • Lokasi tumor
  • Hasil tes uji tumor, meliputi jenis kanker payudara, status reseptor hormon, stadium, dan lain-lain
  • Usia pasien
  • Kondisi menopause
  • Kondisi kesehatan secara umum
  • Keberadaan mutasi pada gen kanker payudara yang diwariskan, seperti BRCA1 atau BRCA2

Prosedur yang umum dilakukan untuk kanker payudara adalah sebagai berikut:

Operasi Kanker Payudara

Ada beberapa operasi yang dapat dilakukan, tergantung pada kondisi kanker payudara yang dimiliki pasien. Berikut ini beberapa jenis operasi yang dapat dilakukan untuk menangani kanker payudara.

  • Operasi konservasi payudara 

Ini merupakan operasi untuk mengangkat tumor dan mungkin beberapa jaringan normal di sekitarnya, tetapi bukan payudara itu sendiri. Jenis operasi ini dapat juga disebut lumpektomi, mastektomi parsial, mastektomi segmental, kuadrantektomi, atau operasi penyelamatan payudara.

  • Operasi pengangkatan kelenjar getah bening

Operasi ini dilakukan untuk memeriksa apakah kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening. 

  • Mastektomi

Operasi ini mengangkat seluruh payudara. Ada beberapa jenis mastektomi. Perbedaan jenis tersebut didasarkan pada cakupan sejauh mana jaringan di sekitar payudara harus diangkat. Jika dokter menyarankan Anda melakukan metode operasi ini, tanyakan jaringan apa saja di dekat payudara Anda yang harus diangkat.

Berapa kali operasi kanker payudara dilakukan?

Jumlah operasi kanker payudara yang harus dilakukan berbeda-beda untuk setiap pasien. Misalnya, operasi pengangkatan kelenjar getah bening bisa dilakukan bersamaan dengan operasi kanker payudara, atau sebagai satu operasi terpisah.

Selain itu, jika Anda menjalani mastektomi, maka mungkin Anda ingin mempertimbangkan untuk menjalani operasi konstruksi payudara (operasi untuk membangun kembali bentuk payudara setelah mastektomi). Operasi rekonstruksi payudara dapat dilakukan bersamaan pada saat mastektomi atau setelahnya.

Apa yang akan saya rasakan setelah operasi?

Sama seperti jenis dan frekuensi, efek dan lama perawatan pasca operasi setiap pasien berbeda-beda. Namun yang pasti, setiap operasi harus didahului dengan persiapan. Persiapan tersebut meliputi riwayat penyakit atau riwayat operasi yang pernah dijalani sebelumnya.

Jika Anda memiliki riwayat penyakit apa pun seperti penyakit jantung, diabetes, tekanan darah tinggi, pastikan untuk memberitahukannya kepada dokter Anda. Dokter mungkin juga akan melakukan beberapa tes menjelang hari operasi, seperti tes X-ray dada, EKG jantung, tes darah, tes urine, atau bahkan CT scan untuk memantau ukuran dan lokasi tumor yang akan diangkat.

Apa efek samping operasi kanker payudara?

Efek samping operasi kanker payudara bergantung pada jenis operasi yang Anda lakukan dan kondisi medis Anda sendiri.

Jenis operasi, misalnya, mungkin mempengaruhi bentuk payudara. Sedangkan kondisi medis, seperti riwayat penyakit, dapat mempengaruhi reaksi tubuh Anda merespons operasi. Oleh karena itu, pastikan selalu memberikan informasi yang lengkap mengenai kondisi kesehatan Anda kepada dokter. Diskusikan juga dengan dokter Anda mengenai opsi pemulihan pasca operasi, contohnya jika Anda ingin melakukan rekonstruksi payudara selepas mastektomi.

Berapa biaya operasi kanker payudara?

Perbedaan biaya operasi kanker payudara ditentukan oleh jenis operasi, tingkat kesulitan, dan teknologi yang digunakan. Diskusikan lebih detail dengan dokter Anda sebelum menjalani operasi.

Pertanyaan yang perlu ditanyakan ke dokter sebelum operasi

  • Siapa yang akan mengoperasi saya?
  • Seberapa ahli dan berpengalaman dokter bedah saya?
  • Bagaimana cakupan operasi yang akan dilakukan?
  • Apakah saya perlu menjalani pemeriksaan lain sebelum operasi?
  • Apakah saya harus menjalani lumpektomi atau mastektomi?
  • Apakah saya dapat melakukan operasi rekonstruksi payudara?
  • Apakah kelenjar getah bening saya harus diangkat juga? Jika iya, berapa banyak?
  • Apa saja efek samping yang mungkin saya alami?
  • Bagaimana cara mencegah atau meminimalisir efek samping tersebut?
  • Sebelum operasi, apakah saya perlu menjalani kemoterapi?
  • Setelah operasi, apakah saya akan menjalani terapi radiasi? Jika iya, apakah ini mempengaruhi kemungkinan untuk melakukan rekonstruksi payudara?
  • Apa yang harus saya lakukan untuk mempersiapkan fisik dan mental sebelum operasi?
  • Obat atau suplemen apa saja yang harus saya hentikan menjelang operasi?
  • Apakah tumor saya akan disimpan setelah operasi? Bagaimana saya mengaksesnya di masa mendatang?
  • Berapa lama saya akan dirawat inap setelah operasi?
  • Berapa lama operasi berlangsung?
  • Berapa lama saya harus menunggu hasil operasi?
  • Siapa yang akan menghubungi saya untuk memberitahu hasil operasi?
  • Apakah operasi ini akan meninggalkan bekas luka? Jika iya, seperti apa?
  • Perlukah saya menyiapkan bra khusus untuk dipakai setelah operasi?
  • Apakah bekas operasinya akan terasa sakit?
  • Kapan saya harus memeriksakan kembali kondisi saya setelah operasi?
  • Jika saya mengalami efek samping operasi, siapa yang harus saya hubungi?

Terapi Radiasi Kanker Payudara

Terapi radiasi atau disebut juga radioterapi adalah perawatan kanker dengan cara menembakkan sinar radiasi ke sel kanker. Metode ini bertujuan untuk menghancurkan sel kanker, menghambat pertumbuhannya, dan mencegah penyebarannya.

Terapi radiasi dapat dilakukan secara eksternal (melalui mesin dan dari luar tubuh) dan internal (dengan menyuntikkan zat radioaktif ke dalam tubuh untuk jangka waktu singkat). Saat ini, yang paling banyak dilakukan adalah terapi radiasi eksternal. Metode ini dapat dilakukan secara rawat jalan sebab tidak membutuhkan waktu lama.

Berapa kali terapi radiasi untuk kanker payudara dilakukan?

Terapi radiasi untuk kanker payudara dapat dilakukan sebagai cara perawatan tunggal atau untuk melengkapi metode lain seperti kemoterapi, operasi, dan terapi hormon. Frekuensi radiasi terapi berbeda-beda untuk setiap pasien, tergantung pada kondisi masing-masing, tapi biasanya berlangsung selama hitungan minggu.

Berdasarkan waktu pelaksanaannya, terapi radiasi dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Terapi radiasi neoadjuvan

Terapi radiasi neoadjuvan diberikan sebelum operasi. Tujuannya untuk mengecilkan tumor yang besar agar lebih mudah untuk diangkat. Jenis terapi ini jarang dilakukan dan hanya dipertimbangkan jika tumor tidak dapat diangkat dengan pembedahan.

  1. Terapi radiasi ajuvan

Terapi radiasi ajuvan diberikan setelah operasi. Biasanya terapi radiasi ajuvan tidak dilakukan pada pasien yang menjalani mastektomi. Namun, ada beberapa faktor yang membuat terapi ini mungkin dilakukan setelah mastektomi, antara lain sifat tumor, ukuran tumor yang besar, serta lokasi tumor yang sudah menyebar ke kelenjar getah bening, di luar kelenjar getah bening, kulit atau dinding dada.

Apa yang akan saya rasakan selama terapi radiasi?

Terapi radiasi berlangsung cepat. Biasanya pasien tidak perlu sampai menjalani rawat inap.

Terapi radiasi dilakukan dengan menargetkan dosis radiasi ke sel kanker secara akurat, sehingga meminimalisir kemungkinan organ lain di sekitar terkena dampaknya. Terapi radiasi tidak membuat pasien menjadi radioaktif. Oleh karenanya, aman bagi keluarga dan orang terdekat untuk berada di dekat pasien setelah terapi.

Apa efek samping terapi radiasi kanker payudara?

Sebelum memulai terapi radiasi, diskusikan dengan dokter Anda mengenai efek samping yang mungkin muncul setelah terapi.

Efek samping radiasi yang biasa muncul, di antaranya:

  • Masalah kulit, seperti ruam merah, kering, gatal, melepuh, atau terkelupas. Reaksi ini umumnya sembuh dengan sendirinya setelah terapi selesai.
  • Kelelahan. Perasaan lelah atau lemas dapat muncul selama masa terapi dan mungkin memburuk saat mendekati tahap akhir. Kondisi ini biasanya berbeda-beda pada setiap pasien, tergantung pada kondisi kesehatan masing-masing dan perawatan lain yang sedang dijalani. Kelelahan umumnya hilang beberapa minggu setelah selesai terapi. Untuk mengatasi efek samping ini, cobalah menyeimbangkan pola hidup sehat dengan jumlah istirahat yang cukup.
  • Efek samping lain yang berhubungan dengan organ di sekitar area yang diterapi.

Sebagian besar efek samping terapi radiasi bisa sembuh dengan sendirinya setelah masa terapi selesai. Namun, ada juga kemungkinan beberapa efek samping berlanjut lebih lama. Untuk itu, pastikan untuk selalu berdiskusi dengan dokter onkologi radioterapi yang merawat Anda. 

Berapa biaya terapi radiasi kanker payudara?

Biaya terapi radiasi untuk perawatan kanker payudara berbeda-beda, tergantung pada teknologi yang digunakan, cakupan, hingga frekuensi terapi.

Untuk mendapat informasi yang jelas, Anda perlu menanyakan kisaran biaya kepada dokter Anda sebelum terapi dimulai.

Pertanyaan yang perlu ditanyakan ke dokter sebelum terapi radiasi

  • Apa hasil yang diharapkan dari terapi radiasi ini?
  • Apakah terapi radiasi ini bisa mencegah kambuhnya kanker di masa mendatang?
  • Jika kanker kambuh, apakah saya perlu melakukan terapi radiasi lagi?
  • Berapa kali saya harus melakukan terapi radiasi?
  • Berapa lama setiap sesi terapi radiasi berlangsung?
  • Apakah saya bisa mengajak seseorang menemani saya ke ruang terapi?
  • Apakah akan ada perubahan dosis radiasi di setiap sesi terapi?
  • Persiapan apa yang perlu saya lakukan sebelum terapi?
  • Pakaian apa yang sebaiknya saya pakai ke ruang terapi?
  • Apa yang boleh dan tidak boleh saya bawa atau pakai selama terapi?
  • Apakah terapi radiasi akan terasa sakit? Apa yang akan saya rasakan selama terapi berlangsung?
  • Apa efek samping yang mungkin saya rasakan selama dan setelah terapi?
  • Bisakah saya beraktivitas normal setelah terapi?
  • Bolehkah saya menggunakan krim kulit selama terapi radiasi?
  • Apakah ada makanan atau vitamin yang harus saya hindari selama menjalani terapi?
  • Apakah terapi radiasi mempengaruhi peluang saya menjalani operasi rekonstruksi payudara?
  • Apakah terapi radiasi mempengaruhi kesuburan dan vitalitas seksual saya?

Kemoterapi Kanker Payudara

Kemoterapi adalah metode menghancurkan sel kanker dengan menggunakan obat-obatan. Metode ini efektif menyerang sel kanker, namun juga berdampak pada sel sehat normal yang membelah dengan cepat. Tetapi, tidak seperti sel kanker, sel normal dapat memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan  dan memulihkan diri.

Ada banyak jenis obat kemoterapi. Pemilihan obat kemoterapi dan frekuensi konsumsinya ditentukan oleh jenis kanker Anda, responsnya terhadap pengobatan, dan reaksi tubuh Anda selama proses pengobatan.

Pengobatan kemoterapi dapat diberikan melalui berbagai cara, seperti secara oral, dimasukkan ke dalam vena atau langsung ke area yang terkena kanker, atau sebagai krim. Biasanya, kemoterapi dibagi ke dalam beberapa siklus pengobatan dengan interval tertentu di antara setiap dosis. Ini bertujuan agar sel-sel sehat di tubuh Anda bisa pulih sebelum menjalani dosis berikutnya.

Berapa kali kemoterapi untuk kanker payudara dilakukan?

Setiap pasien menjalani frekuensi siklus kemoterapi berbeda-beda, tergantung kondisi kesehatan dan kanker yang dialami. Namun, secara umum, ada beberapa pendekatan penggunaan kemoterapi.

  • Sebelum operasi atau terapi radiasi untuk mengecilkan tumor. Pendekatan ini disebut kemoterapi neoadjuvan.
  • Setelah operasi atau terapi radiasi untuk menghancurkan sel kanker yang tersisa. Ini disebut kemoterapi adjuvan.
  • Sebagai pengobatan tunggal.
  • Untuk mengatasi kanker yang kambuh setelah pengobatan.
  • Untuk mengatasi kanker yang sudah menyebar ke bagian tubuh lain atau disebut kanker metastasis.

Apa efek samping kemoterapi kanker payudara?

Kemoterapi berpotensi menimbulkan beberapa efek samping. Efek samping ini terjadi karena obat kemoterapi, dalam proses menghancurkan sel kanker, juga ikut menyerang sel sehat. Meskipun begitu, rata-rata efek samping kemoterapi bersifat sementara.

Setiap pasien merasakan efek samping kemoterapi yang berbeda-beda, tergantung jenis obat yang dipakai dan toleransi tubuh terhadap pengobatan tersebut. Beberapa efek samping yang biasa muncul antara lain:

  • Mual dan muntah
  • Diare atau sembelit
  • Kelelahan
  • Sariawan 
  • Peningkatan risiko infeksi
  • Memar
  • Rambut rontok
  • Lemah otot
  • Kepekaan kulit terhadap sinar matahari meningkat (hanya obat-obatan tertentu)
  • Kerusakan saraf (hanya obat-obatan tertentu)
  • Mata kering atau lelah
  • Kehilangan selera makan.

Berapa biaya kemoterapi kanker payudara?

Biaya kemoterapi relatif, tergantung pada jenis obat yang dipakai dan frekuensi pengobatan. Karena itu, penting bagi Anda untuk menanyakan ke dokter sebelum menjalani kemoterapi beberapa hal penting, seperti berapa kali Anda akan menerima pengobatan kemoterapi, berapa siklus, dan obat apa yang digunakan.

Pertanyaan yang perlu ditanyakan ke dokter sebelum kemoterapi

  • Berapa kali saya akan menjalani kemoterapi? Terbagi menjadi berapa siklus?
  • Apa saja obat kemoterapi yang akan digunakan?
  • Apa efek samping yang akan saya rasakan setelah kemoterapi?
  • Adakah cara untuk mencegah efek samping tersebut?
  • Bagaimana saya dapat mengatasi efek samping tersebut?
  • Siapa yang harus saya hubungi seandainya merasakan efek samping kemoterapi?
  • Apakah kemoterapi ini akan mempengaruhi seksualitas dan kesuburan saya?
  • Apakah saya perlu berdiskusi dengan dokter kesuburan dulu sebelum kemoterapi?
  • Bagaimana jika saya hamil selama menjalani kemoterapi? Apakah akan ada dampak terhadap janin?
  • Apakah saya bisa langsung melakukan program hamil setelah kemoterapi selesai?
  • Jika tidak, berapa lama saya harus menunggu sebelum bisa hamil dengan aman?
  • Apakah ada pantangan dan rekomendasi makanan selama menjalani kemoterapi?
  • Apakah ada suplemen yang sebaiknya saya konsumsi selama periode kemoterapi?
  • Gaya hidup seperti apa yang dapat membantu kelancaran kemoterapi?
  • Apakah saya masih bisa beraktivitas normal selama kemoterapi?
  • Apakah kemoterapi membuat saya lebih rentan tertular penyakit?

Terapi Hormon Kanker Payudara

Wanita memiliki hormon estrogen dan progesteron di dalam tubuh. Kedua hormon ini bisa menjadi makanan beberapa jenis kanker payudara. Artinya, tanpa hormon tersebut, sel kanker tidak bisa tumbuh dan menyebar. Oleh karena itu, terapi hormon adalah upaya menahan laju pertumbuhan sel kanker dengan menambahkan, memblokir, atau menghilangkan hormon.

Karena terapi hormon bekerja dengan cara mempengaruhi produksi hormon estrogen dan progesteron, maka terapi ini diterapkan kepada jenis kanker payudara yang memiliki reseptor hormon estrogen (ER+) atau progesteron (PR+).

Ada dua cara pemberian terapi hormon untuk kanker payudara, yaitu:

  1. Melalui obat yang menghentikan estrogen dan progesteron 
  2. Melalui obat-obatan atau pembedahan untuk mencegah ovarium memproduksi hormon

Berapa kali terapi hormon untuk kanker payudara dilakukan?

Terapi hormon terbagi menjadi dua:

  • Neoadjuvan, yaitu diberikan sebelum operasi untuk mengecilkan tumor, mempermudah operasi, dan/atau menurunkan risiko kekambuhan. Biasanya terapi hormon neoadjuvan diberikan minimal 3 sampai 6 bulan sebelum operasi.
  • Adjuvan, yaitu diberikan hanya setelah operasi dengan tujuan untuk mengurangi risiko kekambuhan.

Frekuensi terapi hormon juga bergantung pada cara pemberian terapi dan status menopause pasien. Pasien yang belum dan sudah menopause akan mendapatkan kuantitas terapi yang berbeda. Dengan mendiskusikannya dengan dokter, Anda dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai terapi hormon yang akan Anda jalani.

Apa efek samping terapi hormon kanker payudara?

Setiap obat terapi hormon berisiko menimbulkan efek samping berbeda-beda. Di bawah ini contoh efek samping yang umum terjadi dari beberapa obat terapi hormon.

  • Tamoxifen

Tamoxifen adalah salah satu obat terapi hormon yang paling lama digunakan oleh dokter dalam penanganan kanker. Obat ini mencegah suplai estrogen ke sel kanker sehingga sel kanker gagal berkembang.

Untuk pasien wanita dengan kanker payudara, efek samping tamoxifen mirip dengan gejala menopause, antara lain:

  • Sensasi panas pada tubuh
  • Keputihan
  • Vagina kering atau gatal
  • Gangguan siklus menstruasi
  • Sakit kepala
  • Mual dan muntah
  • Ruam kulit
  • Kelelahan
  • Kenaikan berat badan

Tamoxifen juga berpotensi menimbulkan beberapa risiko kesehatan, seperti:

  • Meningkatkan kesuburan untuk sementara
  • Membahayakan janin. Oleh karena itu, pasien tidak dianjurkan hamil selama masa konsumsi tamoxifen. Upayakan memakai kondom ketika berhubungan seksual. Namun, hindari pil KB sebab dapat mengganggu kerja tamoxifen. Segera konsultasikan ke dokter jika hamil selama mengonsumsi tamoxifen.
  • Darah menggumpal. Biasa terdapat di paru-paru atau pembuluh darah besar. Risiko ini meningkat pada wanita perokok.
  • Stroke
  • Kanker rahim atau sarkoma. Tamoxifen memiliki risiko kecil menimbulkan kanker sekunder. Risiko tersebut lebih kecil dibandingkan manfaat yang diberikan obat ini. Diskusikan dengan dokter Anda mengenai hal ini sebelum menjalani terapi tamoxifen.
  • Katarak.
  • Tamoxifen juga mempengaruhi kerja obat lain di tubuh pasien.
  • Aromatase inhibitors

Aromatase inhibitors merupakan jenis obat terapi hormon yang mencegah tubuh memecah testosteron menjadi estrogen. Efek samping yang mungkin ditimbulkan oleh jenis obat ini, di antaranya:

  • Mual dan muntah
  • Diare
  • Sembelit
  • Sensasi panas pada tubuh
  • Sakit kepala
  • Nyeri tulang
  • Kelelahan parah
  • Ruam kulit
  • Pembengkakan dan retensi air
  • Gejala mirip flu
  • Meningkatnya pengeroposan tulang
  • Fulvestrant

Fulvestrant, diberikan melalui suntikan, dapat mencegah estrogen menempel pada sel kanker. Beberapa efek samping yang perlu diperhatikan adalah:

  • Sakit di area yang disuntik
  • Mual dan muntah
  • Hilang nafsu makan
  • Tubuh lemah
  • Kelelahan
  • Sensasi panas pada tubuh
  • Batuk
  • Nyeri otot, persendian, dan tulang
  • Sembelit
  • Sesak napas

Berapa biaya terapi hormon kanker payudara?

Biaya terapi hormon untuk pengobatan kanker payudara bervariasi tergantung pada jenis obat yang digunakan, jumlah obat yang digunakan, hingga frekuensi pengobatan. Tanyakan dengan jelas kepada dokter Anda mengenai biaya sebelum memulai terapi hormon.

Pertanyaan yang perlu ditanyakan ke dokter sebelum terapi hormon

  • Berapa lama saya akan menjalani terapi hormon?
  • Apa saja obat yang akan digunakan?
  • Apa efek samping yang akan saya rasakan selama dan setelah terapi?
  • Adakah cara untuk mencegah efek samping tersebut?
  • Bagaimana saya dapat mengatasi efek samping tersebut?
  • Siapa yang harus saya hubungi seandainya merasakan efek samping terapi hormon?
  • Apakah terapi hormon ini akan mempengaruhi seksualitas dan kesuburan saya?
  • Apakah saya perlu berdiskusi dengan dokter kesuburan dulu sebelum terapi hormon?
  • Jika saya belum menopause, apakah terapi ini akan membuat saya menopause dini?
  • Bagaimana jika saya hamil selama menjalani terapi hormon? Apakah akan ada dampak terhadap janin?
  • Apakah saya bisa langsung melakukan program hamil setelah terapi hormon selesai?
  • Jika tidak, berapa lama saya harus menunggu sebelum bisa hamil dengan aman?
  • Apakah ada pantangan dan rekomendasi makanan selama menjalani terapi hormon?
  • Apakah ada suplemen yang sebaiknya saya konsumsi selama periode terapi hormon?
  • Apakah saya masih bisa beraktivitas normal selama terapi hormon?
  • Apakah terapi hormon membuat saya lebih rentan tertular penyakit?

Terapi Target Kanker Payudara

Terapi tertarget adalah pengobatan kanker yang secara khusus menargetkan sel kanker dan molekul yang mendorong pertumbuhan sel kanker tersebut. Melalui cara ini, terapi tertarget kemudian dapat memblokir pertumbuhan abnormal dari sel-sel yang menyebabkan kanker.

Karena sifatnya yang menargetkan hanya pada sel kanker, terapi tertarget biasanya tidak membahayakan sel-sel normal lain.

Sebelum melakukan terapi tertarget, dokter mengidentifikasi gen, protein, dan faktor lain dari tumor pasien. Jadi, setiap pasien dapat menjalani terapi tertarget yang berbeda-beda tergantung jenis kanker payudara yang dimiliki.

Berapa kali terapi tertarget untuk kanker payudara dilakukan?

Jawabannya tergantung pada kondisi kanker pasien. Terapi tertarget bisa diberikan bersama pengobatan lain seperti radioterapi, kemoterapi, atau operasi, tapi juga bisa dipilih sebagai pengganti pengobatan tersebut. Oleh karena itu, penting untuk bertanya dengan jelas ke dokter Anda mengenai rencana terapi tertarget sebelum menjalaninya.

Apa efek samping terapi tertarget kanker payudara?

Obat terapi tertarget yang berbeda dapat memberikan efek samping yang berbeda pula. Secara umum, berikut ini efek samping yang biasa ditemukan setelah menjalani terapi tertarget:

  • Muncul reaksi alergi
  • Sesak napas
  • Terjadi pembengkakan
  • Mual
  • Muncul ruam
  • Diare
  • Demam
  • Pusing
  • Badan lemah

Sebelum memulai terapi, dokter umumnya akan memberi tahu mengenai kemungkinan efek samping tersebut. Apabila memang terjadi, segera konsultasikan dengan dokter untuk mengatasinya, terutama jika mengalami gejala seperti:

  • Suhu tubuh di atas 38oC disertai demam menggigil
  • Luka atau bercak di mulut, lidah bengkak, atau gusi berdarah
  • Tenggorokan kering, terbakar, gatal, atau bengkak
  • Batuk terus-menerus
  • Buang air kecil lebih sering dengan urine yang panas atau berdarah
  • Mulas, mual, muntah, sembelit, atau diare yang parah atau berlangsung lebih dari 2-3 hari
  • BAB berdarah
  • Sesak napas
  • Bengkak di kaki atau pergelangan kaki
  • Kelelahan parah

Berapa biaya terapi tertarget kanker payudara?

Biaya terapi tertarget ditentukan oleh jenis obat yang dipakai, dosis obat, frekuensi pengobatan, dan lain-lain. Tanyakan ke dokter Anda mengenai rencana lengkap terapi yang hendak dilakukan untuk mengetahui lebih jelas kisaran biayanya.

Pertanyaan yang perlu ditanyakan ke dokter sebelum terapi tertarget

  • Apa jenis terapi tertarget yang cocok untuk jenis kanker payudara saya?
  • Berapa lama saya akan menjalani terapi tertarget?
  • Apa saja obat yang akan digunakan?
  • Apa efek samping yang akan saya rasakan selama dan setelah terapi?
  • Adakah cara untuk mencegah efek samping tersebut?
  • Bagaimana saya dapat mengatasi efek samping tersebut?
  • Siapa yang harus saya hubungi seandainya merasakan efek samping terapi tertarget?
  • Apakah terapi ini akan mempengaruhi seksualitas dan kesuburan saya?
  • Apakah saya perlu berdiskusi dengan dokter kesuburan dulu sebelum terapi?
  • Jika saya belum menopause, apakah terapi ini akan membuat saya menopause dini?
  • Bagaimana jika saya hamil selama menjalani terapi? Apakah akan ada dampak terhadap janin?
  • Apakah saya bisa langsung melakukan program hamil setelah terapi selesai?
  • Jika tidak, berapa lama saya harus menunggu sebelum bisa hamil dengan aman?
  • Apakah ada pantangan dan rekomendasi makanan selama menjalani terapi?
  • Apakah ada suplemen yang sebaiknya saya konsumsi selama periode terapi?
  • Apakah saya masih bisa beraktivitas normal selama terapi?
  • Apakah terapi membuat saya lebih rentan tertular penyakit?

Bagaimana Menghadapi Efek Samping Fisik Perawatan Kanker Payudara?

Selama menjalani perawatan kanker payudara, sangat mungkin Anda mengalami perubahan secara fisik. Tubuh harus beradaptasi dengan efek samping tiap perawatan yang dijalani, dan karena itu energi bisa naik dan turun seiring waktu. 

Berikut beberapa tips menghadapi efek samping fisik perawatan kanker payudara.

  1. Tetap berkomunikasi dengan tim dokter

Beberapa efek samping menghilang dengan sendirinya setelah perawatan selesai. Namun, adakalanya berlanjut lebih lama. Bicarakan dengan tim dokter Anda semua efek samping yang Anda rasakan. Tim dokter biasanya akan membantu mengatasi dan memonitor efek samping yang muncul.

Selain itu, tim dokter juga dapat memantau apakah perubahan kondisi fisik Anda ada kaitannya dengan perubahan kanker itu sendiri. Dengan menjaga komunikasi dengan tim dokter, Anda lebih mungkin untuk mendapatkan penanganan cepat saat diperlukan.

  1. Istirahat yang cukup

Efek samping perawatan kanker bisa saja membuat Anda sulit beristirahat. Namun, tetap penting untuk memaksimalkan waktu yang Anda punya untuk beristirahat. Hindari kafein agar Anda tidak sulit tidur saat malam. Usahakan juga untuk tidur dan bangun pagi di jam yang sama setiap hari demi membiasakan tubuh. Olahraga ringan seperti yoga dan meditasi dapat membantu tubuh lebih rileks sehingga lebih cepat tidur saat malam.

  1. Olahraga semampunya

Tidak perlu memaksakan diri melakukan olahraga berat. Aktivitas fisik yang ringan seperti jalan kaki, yoga, berenang bisa menjaga tubuh tetap kuat dan segar. Ini juga bisa membantu mengatasi efek samping perawatan. Lebih dari itu, jika Anda sudah mendapatkan remisi, olahraga bisa membantu mencegah kanker kambuh kembali. Jika ragu untuk menentukan olahraga apa yang tepat untuk Anda, diskusikan dengan tim dokter Anda.

  1. Atur pola makan yang baik

Salah satu efek samping yang paling sering terjadi, terutama setelah kemoterapi, adalah mual. Itulah kenapa Anda perlu mengatur dengan baik pola makan. Hindari memakan porsi besar. Bagilah porsi makan Anda menjadi beberapa porsi kecil, misalnya dengan memecah porsi makan tiga kali sehari menjadi lima kali makan.

Snack ringan yang sehat, seperti buah-buahan dan sayuran, juga disarankan untuk dikonsumsi sebelum Anda menjalani terapi. Ini akan membuat pencernaan Anda terasa lebih baik selama sesi terapi berlangsung.

Bagaimana Menghadapi Masalah Psikologis Selama Perawatan Kanker Payudara?

Menjalani perawatan penyakit apa pun, terutama seperti kanker, bukan hanya menguras fisik tetapi juga psikologis. 

Mengingat sifat perawatan kanker yang biasanya berlangsung lama dan melibatkan beberapa metode berbeda, kondisi psikologis pasien menjadi faktor penting untuk melanjutkan perawatan. Kondisi psikologis yang buruk bisa berdampak pada kesehatan secara umum dan motivasi untuk sembuh.

Karena itu, cobalah untuk juga merawat kondisi psikologis Anda lewat beberapa tips berikut.

  1. Kelola stres

Stres muncul melalui beberapa tanda, misalnya sulit tidur, kelelahan, nyeri tubuh, gelisah, mudah tersinggung, tegang, dan sakit kepala. Untuk mengelola stres, cobalah untuk berolahraga. Olahraga ringan seperti jalan kaki dan yoga bisa membuat badan dan pikiran lebih segar. Mengatur pola makan sehat dan istirahat cukup juga membantu mengurangi beban pikiran.

  1. Sampaikan kekhawatiran pada dokter

Salah satu yang dapat menjadi penyebab beban pikiran adalah mengkhawatirkan penyakit kanker itu sendiri dan kemungkinan efek samping perawatan yang dijalani. Daripada memendamnya, sebaiknya komunikasikan kecemasan Anda dengan tim dokter. Dengan begitu, tim dokter juga bisa mengikuti perkembangan kondisi Anda dengan lebih baik.

  1. Meditasi

Meditasi membantu untuk memfokuskan perhatian pada apa yang berada di dalam kendali Anda. Selain itu, latihan pernapasan dalam meditasi juga efektif melancarkan sirkulasi udara segar di tubuh Anda. 

  1. Cari dukungan

Selain tim dokter, berbagilah perasaan Anda kepada orang-orang yang mendukung, seperti anggota keluarga, sahabat, atau jaringan pejuang kanker di dekat Anda. Anda mungkin lebih merasa dimengerti oleh para pejuang kanker yang juga sedang atau pernah berada di dalam situasi seperti Anda. Mintalah rekomendasi dari tim dokter untuk menemukannya. Anda juga bisa terhubung dengan para pejuang kanker yang membagikan inspirasi dan motivasinya di Smarter Health.

Apa Itu Remisi?

Remisi adalah kondisi ketika sel kanker berkurang atau tidak ditemukan di dalam tubuh pasien paling tidak selama satu bulan.

Ada dua jenis remisi, yaitu:

  1. Remisi parsial atau sebagian. Artinya, perawatan yang dijalani telah berhasil membunuh sebagian besar sel kanker. Dalam kondisi ini, sel kanker di tubuh Anda sudah berkurang jauh. Ukuran tumor pun mengecil setengah atau tidak bertambah besar. 
  1. Remisi lengkap. Artinya, tidak lagi ditemukan gejala dan sel kanker pada tubuh pasien. Ini tidak berarti sel kanker telah hilang sepenuhnya. Oleh karenanya, pasien masih perlu melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memantau apakah sel kanker aktif kembali.

Keduanya hanya bisa diketahui lewat pemeriksaan fisik dan serangkaian tes, seperti tes darah, pemeriksaan sinar-X, mammogram, dan MRI.

Berapa Lama Remisi Bertahan?

Remisi bukan berarti sel kanker telah hilang sepenuhnya dari tubuh. Anda harus tetap melakukan pemeriksaan rutin seperti yang dianjurkan dokter untuk memantau apakah sel kanker aktif kembali.

Beberapa sumber mengatakan bahwa kebanyakan kanker rentan kambuh dalam waktu 5 tahun. Namun, ini bisa saja berbeda di tiap-tiap pasien. Yang terpenting, tetaplah lakukan pemeriksaan sesuai jadwal dan jaga pola hidup sehat untuk memperpanjang masa remisi.

Apa yang Harus Dilakukan Selama Remisi?

Adakalanya, pasien masih harus minum obat dengan dosis lebih rendah setelah mencapai remisi. Dokter akan memantau perkembangan status remisi pasien melalui pemeriksaan berkala.

Anda bisa mencoba mempertahankan remisi dengan menerapkan beberapa tips hidup sehat di bawah ini:

  • Olahraga.
  • Kelola stres
  • Hindari alkohol
  • Pertahankan berat badan ideal.
  • Jangan merokok, atau berhenti jika Anda perokok.
  • Konsumsi makanan yang sehat, dengan banyak buah-buahan segar, sayuran, dan biji-bijian.

Apa Gejala Kanker Kambuh?

Kanker baru bisa dikatakan kambuh setelah pemeriksaan oleh dokter. 

Setelah remisi, Anda masih disarankan untuk berkonsultasi dan periksa ke dokter. Selama pemeriksaan inilah, dokter yang sudah mengetahui riwayat kesehatan Anda dapat memberi informasi mengenai risiko kekambuhan Anda. 

Memahami risiko kekambuhan membantu Anda merasa lebih siap jika kanker kembali lagi. Dengan begitu Anda dan dokter Anda bisa membuat keputusan lebih baik tentang pengobatan selanjutnya.

Perlu diingat, kekambuhan kanker payudara setelah remisi bisa muncul di payudara yang sama, sisi payudara lain, atau di bagian tubuh berbeda. Kekambuhan kanker payudara dapat dicirikan melalui gejala-gejala berikut ini:

  • Benjolan di bawah lengan atau di sepanjang dinding dada
  • Nyeri yang tidak kunjung hilang atau malah memburuk
  • Nyeri tulang, punggung, leher, atau sendi
  • Patah tulang atau bengkak
  • Sakit kepala
  • Kejang
  • Kehilangan keseimbangan
  • Mual dan muntah yang tak kunjung membaik
  • Perubahan penglihatan
  • Batuk kronis
  • Sesak napas yang berlangsung lama
  • Sakit perut disertai kulit dan mata kuning 
  • Ruam atau perubahan kulit payudara atau dinding dada
  • Perubahan bentuk atau ukuran payudara

Apa yang Harus Dilakukan Saat Kanker Kambuh?

Segera temui dokter jika merasakan gejala seperti di atas. Dokter akan mengecek apakah gejala yang dirasakan berhubungan dengan kekambuhan kanker payudara.

Gejala umum seperti mual, muntah, sesak napas, nyeri tulang tidak selalu berarti kanker payudara Anda kambuh. Namun, gejala ini bisa jadi pertanda bahwa kanker telah bermetastasis ke organ lain seperti hati, paru-paru, tulang, dan lainnya.

Ke Mana Mencari Dukungan Selama Menjalani Perawatan Kanker?

Dukungan dari orang-orang terdekat, seperti keluarga dan sahabat, besar artinya bagi pasien selama perawatan kanker payudara. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah dukungan dari sesama pejuang kanker payudara.

Mengetahui ada orang lain yang sedang berjuang melawan penyakit yang sama dapat memberi motivasi dan kekuatan pada pasien. Dukungan dari pejuang kanker payudara lain juga membantu pasien agar tidak merasa sendirian.

Umumnya, beberapa klinik kanker sudah memiliki jaringan pejuang atau relawan kanker yang siap memberikan dukungan. Anda juga bisa menemukannya di jaringan dukungan kanker yang sudah terhimpun di Smarter Health. Jangan ragu untuk menghubungi profil mereka. Anda juga bisa berbagi dan berkomunikasi di Forum Kanker Smarter Health berikut ini.

Referensi:
American Society of Clinical Oncology (ASCO). 2021. Breast Cancer.
Web MD. Breast Cancer Health Center.
Icon Cancer Centre. Breast Cancer.
National Cancer Institute. Breast Cancer.

Artikel Sebelumnya

Kanker Paru

Artikel Selanjutnya

Kanker Kolorektal