tahapan kanker kolon

Kanker Usus Besar: Perlukah Melakukan Kolonoskopi?

Sebarkan info ini:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email

Kanker usus besar adalah salah satu jenis kanker yang paling banyak ditemukan di seluruh dunia. Pada tahun 2018, ada sekitar 1,8 juta kasus kanker kolorektal (kanker kolon) yang tercatat.

Kanker usus besar terjadi ketika sel kanker yang tidak normal tumbuh di dalam usus Anda. Kanker usus besar, kanker usus, dan kanker dubur secara kolektif dikenal dengan nama kanker kolorektal, dan secara individual merujuk pada area usus tertentu yang diserang. Tetapi bagaimana cara mendeteksi kanker usus besar?

Gejala kanker usus besar yang harus diwaspadai:

  • Nyeri pinggul.
  • Kram pada perut bagian bawah.
  • Keluar darah saat buang air besar.
  • Penurunan berat badan atau perubahan pada pola makan.
  • Sering merasakan dorongan ke kamar mandi yang tidak tertahan.
  • Perubahan dalam pola buang air besar, termasuk sembelit yang terus menerus atau diare.

Apabila Anda merasakan gejala-gejala di atas, terutama jika lebih dari satu, atau perubahan signifikan lain pada kebiasaan buang air besar Anda, Anda harus segera pergi ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan kanker usus besar.

Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek kisaran biaya?​

Layanan kami 100% gratis!

Apakah Anda membutuhkan kolonoskopi?

Banyak orang mengira mereka akan membutuhkan kolonoskopi setelah mendapatkan diagnosis kanker usus besar. Sesungguhnya ada banyak alat diagnostik yang bisa digunakan oleh para dokter untuk mendiagnosis kondisi ini:

  • Pemeriksaan fisik, ketika dokter merasakan adanya abnormalitas pada perut Anda. Dokter mungkin juga akan melakukan pemeriksaan colok dubur digital.
  • Tes darah dapat mendeteksi zat kimia yang bernama carcinoembryonic antigen (CEA) yang diproduksi oleh sejumlah kanker usus besar. Namun tes ini tidak bisa diandalkan karena tidak semua kanker memproduksi zat kimia ini, atau hanya memproduksinya dalam jumlah yang sangat sedikit sehingga sulit terdeteksi.
  • Tes darah tinja okultisme atau tes imunokimia feses dapat dilakukan dengan sampel tinja Anda, yang akan memberikan peringatan kepada dokter Anda berupa darah yang tidak bisa dilihat dengan mata manusia. Tes feses tidak dapat mendiagnosis kanker, namun dapat mengindikasikan kebutuhan mendesak akan kolonoskopi untuk mencegah kanker.
  • Sigmoidoskopi fleksibel, yang kurang invasif dibandingkan kolonoskopi menyeluruh, hanya memeriksa sepertiga bagian bawah dari usus besar. Dokter Anda akan memasukkan tabung fleksibel dengan kamera dan lampu ke dalam dubur dan usus Anda. alat tersebut dapat mengambil gambar dan biopsi sel untuk pemeriksaan lebih lanjut. Prosedur ini sangat singkat, tetapi kekurangannya adalah pemeriksaan ini mungkin tidak dapat mendeteksi kanker yang ada di usus bagian atas.
  • Kolonoskopi adalah tes yang paling akurat untuk mendiagnosis kanker kolorektal. Ini merupakan pemeriksaan yang dilakukan pada seluruh bagian usus besar Anda. Anda akan menjalani pembersihan usus sebagai persiapan sebelumnya dan Anda akan diberi sedatif untuk menenangkan Anda selama prosedur berlangsung. Prosedur ini biasanya memakan waktu hingga satu jam setengah. Setelah efek sedatif hilang (biasanya 1 jam setelah prosedur selesai) Anda akan diperbolehkan pulang.
  • CT colonography atau kolonoskopi virtual merupakan alternatif untuk kolonoskopi dengan menggunakan alat pencitraan seperti CT Scan. Usus Anda akan dikempeskan menggunakan gas sebelum CT Scan dilakukan untuk menampakkan bagian-bagian yang berpotensi terkena kanker pada usus. Namun demikian, meski dokter telah melakukan kolonoskopi virtual, Anda mungkin masih memerlukan kolonoskopi nantinya untuk mengonfirmasi diagnosis atau mengangkat sel-sel bersifat kanker.

Kendati banyaknya alat diagnosis untuk kanker usus, pada banyak kasus dibutuhkan biopsi dari sigmoidoskopi atau kolonoskopi untuk melakukan diagnosis yang akurat. Tes darah atau tes darah okultisme dapat memberikan indikasi kuat akan kehadiran kanker usu, namun tidak cukup untuk membuat diagnosis.

Pilihan penanganan kanker usus besar 

Sebagian besar dokter akan melakukan pendekatan dari segala sisi untuk menentukan penanganan kanker. Kombinasi dari operasi, pengobatan, kemoterapi, dan terapi radiasi biasanya sangat efektif.

  • Operasi adalah penanganan yang paling umum untuk kanker usus. Tipe operasi yang akan dilakukan tergantung pada massa kanker dan posisinya. Tumor-tumor berukuran kecil dapat diangkat melalui kolonoskopi. Namun, seringkali dokter akan melakukan laparoskopi (lubang kunci) atau operasi terbuka untuk mengangkat kanker dan jaringan di sekitarnya. Dokter Anda akan menyambungkan kembali usus Anda setelah memotong sebagian kecilnya, namun pada kasus-kasus langka yang tidak memungkinkan tindakan ini, Anda mungkin akan membutuhkan kantong kolostomi. Kantong ini berada di luar tubuh dan menampung kotoran melalui lubang yang ada di perut Anda sampai dokter bedah bisa menyambungkan kembali usus Anda. Sayangnya, pada beberapa kasus, kantong kolostomi harus digunakan secara permanen.
  • Kemoterapi melibatkan rencana perawatan yang panjang dengan obat-obatan keras untuk menghancurkan sel-sel kanker. Karena perawatan kemoterapi sangat intens, efek samping yang ditimbulkan juga sangat kuat dan bisa membuat seseorang jatuh sakit selama masa perawatan.
  • Terapi radiasi meliputi penyinaran langsung pada sel kanker untuk menghancurkan sel-sel kanker yang tersisa setelah operasi atau untuk mengecilkan tumor sebelum dilakukan operasi.
  • Imunoterapi adalah pendekatan lain yang dilakukan untuk meningkatkan sistem imun agar mampu melawan sel-sel kanker.

Apakah perawatan akan berubah tiap tahapnya?

tahapan kanker kolon

Rencana perawatan Anda tergantung pada fase kanker Anda ketika dilakukan diagnosis:

  • Pada tahap I penyebaran kanker belum terlalu luas dan biasanya bisa ditangani hanya dengan operasi. 
  • Pada tahap II dan III, kanker sudah menyebar lebih luas pada area sekeliling usus dan akan memerlukan terapi lain untuk mendukung operasi guna mengangkat sel-sel kanker. 
  • Tahap IV, kanker seharusnya sudah menyebar ke area lain pada tubuh dan organ-organ lain, dan akan memerlukan perawatan yang kuat dari segala sisi. Operasi saja tidak akan efektif. Inilah alasan mengapa deteksi dini sangat penting dalam menentukan pilihan perawatan atau penanganan Anda dan pandangan ke depannya.

Pencegahan dan skrining

Sama halnya seperti semua kanker, sebagian orang lebih beresiko terkena kanker usus dibanding yang lain. Oleh karena itu, menjaga kesehatan, makan makanan bergizi, diet seimbang, mengurangi konsumsi alkohol dan merokok, serta rajin olahraga akan membantu menurunkan resiko kanker. 

Setelah usia 45 tahun, resiko kanker usus semakin meningkat. Konsultasikan dengan dokter Anda untuk melakukan tes skrining berkala. Jika Anda menemukan gejala apapun, segera kunjungi dokter Anda.

Setelah usia 45, resiko kanker usus semakin meningkat. Konsultasikan dengan dokter Anda untuk melakukan tes skrining berkala. Jika Anda menemukan gejala apapun, segera kunjungi dokter Anda.

Penulis: Dr Ng Chee Yung, dokter spesialis tulang di Singapura. Diterjemahkan dari artikel Colon Cancer: Will You Need a Colonoscopy?

Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek kisaran biaya?​

Layanan kami 100% gratis!

Sebarkan info ini:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email

Dokter Bedah Umum

Thomson Medical Centre

Lihat Profil

Info Kesehatan Terkait

Tinggalkan komentar

Layanan Gratis Kami

  • Rekomendasi dokter/rumah sakit
  • Buat janji dokter spesialis
  • Hitung estimasi biaya berobat
  • Cari paket medical check up

Mau berobat atau check up?

Isi form agar kami bisa menghubungi Anda

Kirim Pesan WhatsApp
1
Kirim Pesan WhatsApp
Cari rekomendasi dokter, cek jadwal atau estimasi biaya? Hubungi kami via WhatsApp berikut!
Powered by