Pengobatan Kanker Payudara & Pentingnya Pemeriksaan Sejak Dini

Pengobatan Kanker Payudara & Pentingnya Pemeriksaan Sejak Dini

Sebarkan info ini:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Daftar Isi

Wanita rentan terkena kanker payudara. Itulah mengapa pemeriksaan sejak dini dibutuhkan untuk mendeteksi adanya tanda dan gejala kanker payudara. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memeriksa kesehatan dan pengobatan kanker payudara, salah satunya adalah mammogram. 

Lalu, apa itu kanker payudara? Bagaimana cara pasien kanker payudara melindungi diri dari virus corona? Bolehkan menunda operasi saat pandemi? Apakah pria bisa terkena kanker payudara? Apa saja perawatan dan pengobatan kanker payudara? Bagaimana cara mendeteksi kanker payudara sejak dini? 

Semua pertanyaan tersebut telah dijawab oleh dr. Karmen Wong, seorang dokter spesialis kanker Singapura yang sempat melakukan Facebook Live Q&A bersama Smarter Health Indonesia beberapa waktu lalu. Mari simak selengkapnya di bawah ini. 

Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek kisaran biaya?​

Pakai layanan gratis Smarter Health.

Apa Itu Kanker Payudara?

Kanker payudara adalah penyakit akibat sel-sel payudara tumbuh di luar kendali yang dapat menyebar ke luar payudara lewat pembuluh darah dan pembuluh getah bening. 

Pertumbuhan kanker payudara dapat dimulai di berbagai bagian payudara yang terdiri dari lobulus (kelenjar penghasil susu), duktus (tabung yang mengalirkan susu ke puting), dan jaringan ikat (jaringan fibrosa dan lemak). Umumnya kanker payudara dimulai di lobulus atau duktus. 

Ada beberapa jenis kanker payudara, tergantung sel mana di payudara yang berkembang menjadi kanker. Jenis kanker payudara yang paling umum menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC):

  • Karsinoma duktal invasif, yaitu ketika sel kanker tumbuh di luar duktus ke bagian lain dari jaringan payudara, karena sel kanker ini dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya.
  • Karsinoma lobular invasif, yaitu ketika sel kanker menyebar dari lobulus ke jaringan payudara di dekatnya. Sel kanker ini juga bisa menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Bagaimana Cara Pasien Kanker Payudara Tidak Terjangkit COVID-19?

Pandemi COVID-19 membuat pasien kanker payudara harus menerapkan langkah-langkah pencegahan agar tidak tertular virus corona. Menurut dr. Karmen Wong, pasien kanker tidak memiliki risiko lebih tinggi terjangkit COVID-19. Namun, kondisinya akan berbeda jika pasien terjangkit virus tersebut, karena kanker berisiko terinfeksi lebih parah. Itulah mengapa pasien kanker payudara harus menerapkan langkah-langkah pencegahan. 

Pasien kanker payudara bisa meningkatkan kekebalan tubuhnya dengan berbagai cara. Saat ini, CDC merekomendasikan vitamin D dan vitamin C untuk meningkatkan kekebalan tubuh di tengah pandemi COVID-19. 

Selain itu jika kondisi kesehatannya memungkinkan, pasien kanker dianjurkan hanya berobat ke rumah sakit jika sudah mendesak. Untuk meminimalisir kontak dengan virus, sebaiknya pasien kanker menggunakan layanan tele-konsultasi untuk berkonsultasi dengan dokter terkait. 

Bagaimana Pasien Kanker Payudara Bisa Mencegah Tertular COVID-19?

Apakah pasien kanker payudara berisiko lebih tinggi tertular COVID-19? Atau apakah pasien kanker payudara yang terkena COVID-19 akan mengalami infeksi lebih parah? Apa yang bisa dilakukan pasien kanker payudara agar terhindar dari COVID-19?dr. Karmen Wong menjawabnya di video berikut.dr. Karmen Wong merupakan salah satu dokter spesialis kanker ternama di Asia. Dia memelopori pengobatan kanker payudara multi-disiplin pertama di Singapura 20 tahun yang lalu di National Cancer Centre. Ia juga memprakarsai program transplantasi sumsum tulang pada tumor padat di Singapore General Hospital pada tahun 1997.Ingin bertanya? Tulis di kolom komentar.Ingin tele-konsultasi dengan dr. Wong atau dokter spesialis kanker lain dari Icon Cancer Centre? Isi form di tautan berikut https://www.smarterhealth.id/event/tanya-jawab-facebook-live-bersama-dr-karmen-wong-dampak-covid-19-pada-perawatan-kanker-payudara/Kami akan bantu hubungkan Anda dengan dokter.

Posted by Smarter Health Indonesia on Wednesday, September 30, 2020

Punya Benjolan di Payudara, Bolehkan Menunda Operasi saat Pandemi?

Dr. Karmen Wong di dalam Facebook Live Q&A bersama Smarter Health Indonesia, menjelaskan jika Anda tidak memiliki keluarga dengan riwayat kanker payudara, berusia 28 tahun, dan memiliki benjolan di payudara, kemungkinan kanker tidak terlalu parah. Kanker payudara mungkin menjadi parah jika Anda memiliki keluarga dengan riwayat penyakit tersebut. 

Kanker payudara tidak menimbulkan rasa sakit. Jika itu terjadi, kemungkinan karena kista atau infeksi penyakit fibrokistik. Sebaiknya pasien yang memiliki benjolan di payudara untuk memastikan terlebih dahulu sifat benjolan tersebut. Biasanya metode biopsi dibutuhkan demi hasil diagnosis yang akurat.

Biopsi adalah pengambilan sampel jaringan tubuh untuk dianalisis. Ini merupakan bagian penting dalam menentukan cara mengobati kanker, termasuk kanker payudara. 

Selain biopsi, dokter mungkin juga menyarankan MRI (magnetic resonance imaging) payudara. Namun, metode ini hanya bisa dilakukan di beberapa rumah sakit. Itulah alasan mengapa biopsi masih menjadi kunci utama untuk mendeteksi dan menangani kanker lebih dini. 

Usia 28 Tahun Dengan Benjolan di Payudara. Bolehkah Menunda Operasi Saat Pandemi?

Salah satu penonton bertanya kepada dr. Karmen Wong, apakah boleh menunda operasi benjolan payudara di tengah pandemi ini?Usianya 28 tahun dan dia mengeluhkan benjolan yang terasa sakit di payudara yang menyebar juga ke ketiak.Bagaimana penjelasan dr. Karmen Wong terhadap kondisi pasien tersebut? Tonton di video berikut.dr. Karmen Wong merupakan salah satu dokter spesialis kanker ternama di Asia. Dia memelopori pengobatan kanker payudara multi-disiplin pertama di Singapura 20 tahun yang lalu di National Cancer Centre. Ia juga memprakarsai program transplantasi sumsum tulang pada tumor padat di Singapore General Hospital pada tahun 1997.Ingin bertanya seputar kanker, terutama kanker payudara? Tulis di kolom komentar.Ingin tele-konsultasi dengan dr. Wong atau dokter spesialis kanker lain dari Icon Cancer Centre? Isi form di tautan berikut https://www.smarterhealth.id/event/tanya-jawab-facebook-live-bersama-dr-karmen-wong-dampak-covid-19-pada-perawatan-kanker-payudara/Kami akan bantu hubungkan Anda dengan dokter.

Posted by Smarter Health Indonesia on Thursday, October 1, 2020

Apakah Pria Juga Bisa Terkena Kanker Payudara?

Bukan cuma wanita, pria juga bisa terkena kanker payudara meski kemungkinannya lebih kecil, yakni sekitar 1% hingga 2%. Namun, kanker payudara pada pria cenderung lebih mudah dideteksi, karena dada pria lebih rata. Sehingga dokter atau penyedia layanan kesehatan bisa mendeteksinya dengan mudah. 

Munculnya rasa sakit yang disertai pembesaran ukuran payudara pria belum tentu mengindikasikan adanya kanker payudara, khususnya pada pria muda. Salah satu kondisi non-kanker yang bisa menyerang dada pria adalah ginekomastia.

Ginekomastia adalah peningkatan jumlah jaringan kelenjar payudara pria akibat perubahan hormon estrogen dan testosteron. 

Jika gejala tersebut benar menunjukkan adanya kanker payudara, pasien pria harus tetap menjalani pengobatan dan pemeriksaan mutasi gen untuk menemukan risiko penularan kanker secara genetik.

Apakah Pria Bisa Kena Kanker Payudara?

dr. Karmen Wong menjawabnya di video berikut.dr. Karmen Wong merupakan salah satu dokter spesialis kanker ternama di Asia. Dia memelopori pengobatan kanker payudara multi-disiplin pertama di Singapura 20 tahun yang lalu di National Cancer Centre. Ia juga memprakarsai program transplantasi sumsum tulang pada tumor padat di Singapore General Hospital pada tahun 1997.Ingin bertanya seputar kanker, terutama kanker payudara? Tulis di kolom komentar.Ingin tele-konsultasi dengan dr. Wong atau dokter spesialis kanker lain dari Icon Cancer Centre? Isi form di tautan berikut https://www.smarterhealth.id/event/tanya-jawab-facebook-live-bersama-dr-karmen-wong-dampak-covid-19-pada-perawatan-kanker-payudara/Kami akan bantu hubungkan Anda dengan dokter.

Posted by Smarter Health Indonesia on Thursday, October 1, 2020

Berbahayakah Jika Pasien Sering Melakukan PET Scan?

Positron emission tomography (PET) Scan adalah tes pencitraan yang membantu dokter melihat bagaimana jaringan dan organ Anda berfungsi. PET scan menggunakan obat radioaktif yang terkadang dapat mendeteksi penyakit sebelum muncul di tes pencitraan lainnya. 

Menurut dr. Karmen Wong, ada dua hal yang harus diperhatikan sebelum Anda melakukan PET scan, yaitu:

  • Apa alasan Anda melakukan PET scan?
  • Mengapa PET scan dianggap berbahaya?

PET scan memiliki dosis radiasi tinggi, yakni lebih dari 100 kali pemeriksaan sinar-X dada. Penting untuk membicarakan hal ini dengan dokter sesuai tujuan, manfaat, dan efek samping pemeriksaan PET scan

Apakah Sering Melakukan PET Scan Berbahaya?

PET scan adalah pemeriksaan menggunakan sinar radiasi yang dilakukan untuk mendeteksi penyakit tertentu di dalam tubuh. Mengingat pemeriksaan ini melibatkan radiasi, apakah ini berbahaya?dr. Karmen Wong menjawabnya di video berikut.dr. Karmen Wong merupakan salah satu dokter spesialis kanker ternama di Asia. Dia memelopori pengobatan kanker payudara multi-disiplin pertama di Singapura 20 tahun yang lalu di National Cancer Centre. Ia juga memprakarsai program transplantasi sumsum tulang pada tumor padat di Singapore General Hospital pada tahun 1997.Ingin bertanya seputar kanker, terutama kanker payudara? Tulis di kolom komentar.Ingin tele-konsultasi dengan dr. Wong atau dokter spesialis kanker lain dari Icon Cancer Centre? Isi form di tautan berikut https://www.smarterhealth.id/event/tanya-jawab-facebook-live-bersama-dr-karmen-wong-dampak-covid-19-pada-perawatan-kanker-payudara/Kami akan bantu hubungkan Anda dengan dokter.

Posted by Smarter Health Indonesia on Thursday, October 1, 2020

Apakah Masih Bisa Terkena Kanker Payudara setelah Payudara Diangkat?

Meski tidak umum, tetapi pasien kanker payudara masih berpotensi mengalami kambuh meski sudah melakukan operasi pengangkatan payudara. Ini disebabkan adanya jaringan payudara yang tertinggal di dinding dada setelah menjalani operasi pengangkatan payudara. Dalam kondisi tertentu, jaringan payudara yang tertinggal dapat berubah dan berkembang menjadi kanker. 

Setelah payudara diangkat, masih ada kemungkinan sel kanker berukuran kecil yang menyebar ke bagian tubuh lainnya. Bertahun-tahun kemudian, sel ini bisa tumbuh kembali di organ tubuh lainnya dan berisiko tumbuh menjadi kanker.

Kalau Payudara Sudah Diangkat, Apa Masih Bisa Kena Kanker Payudara?

Jika seseorang sudah menjalani operasi pengangkatan payudara, masihkah dia bisa terkena kanker payudara lagi?dr. Karmen Wong menjawabnya di video berikut.dr. Karmen Wong merupakan salah satu dokter spesialis kanker ternama di Asia. Dia memelopori pengobatan kanker payudara multi-disiplin pertama di Singapura 20 tahun yang lalu di National Cancer Centre. Ia juga memprakarsai program transplantasi sumsum tulang pada tumor padat di Singapore General Hospital pada tahun 1997.Ingin bertanya seputar kanker, terutama kanker payudara? Tulis di kolom komentar.Ingin tele-konsultasi dengan dr. Wong atau dokter spesialis kanker lain dari Icon Cancer Centre? Isi form di tautan berikut https://www.smarterhealth.id/event/tanya-jawab-facebook-live-bersama-dr-karmen-wong-dampak-covid-19-pada-perawatan-kanker-payudara/Kami akan bantu hubungkan Anda dengan dokter.

Posted by Smarter Health Indonesia on Wednesday, September 30, 2020

Kapan Harus Mammogram untuk Mendeteksi Kanker Payudara Lebih Dini?

Mammografi atau mammogram adalah gambar sinar-X payudara yang digunakan untuk mencari tanda dan gejala awal kanker payudara. Tes ini sangat baik untuk mendeteksi kanker payudara sejak dini, terkadang hingga 3 tahun sebelum gejala kanker muncul.

Dr. Karmen Wong menganjurkan tes mammogram untuk wanita yang memiliki keluarga dengan riwayat kanker payudara. Tujuannya untuk mengetahui apakah kondisi tersebut bersifat genetik atau bukan. Tes darah biasanya dipilih untuk tes genetik.

Jika genetik bukan penyebabnya, wanita disarankan melakukan mammogram pada 5 hingga 10 tahun sebelum usia indeks anggota keluarga terkena kanker. Artinya, jika seorang anggota keluarga terkena kanker payudara di usia 40 tahun, berarti Anda perlu tes mammogram di usia 35 tahun. Tetapi jika anggota keluarga terkena kanker payudara di usia 70 tahun, sebaiknya Anda tes mammogram sejak usia 50 tahun.

Punya pertanyaan seputar kanker payudara? Tulis di kolom komentar. Anda juga bisa melakukan tele-konsultasi bersama dr. Karmen Wong melalui Smarter Health tanpa perlu keluar rumah.

Di Usia Berapa Harus Lakukan Mamogram untuk Mendeteksi Kanker Payudara Lebih Awal?

Kanker yang terdeteksi lebih awal memiliki risiko sembuh lebih besar. Salah satu cara mendeteksi kanker payudara adalah dengan menjalani mamogram. Di usia berapa seorang wanita perlu melakukan mamogram, terutama jika keluarganya punya riwayat kanker?Simak jawaban dr. Karmen Wong di video berikut.dr. Karmen Wong merupakan salah satu dokter spesialis kanker ternama di Asia. Dia memelopori pengobatan kanker payudara multi-disiplin pertama di Singapura 20 tahun yang lalu di National Cancer Centre. Ia juga memprakarsai program transplantasi sumsum tulang pada tumor padat di Singapore General Hospital pada tahun 1997.Ingin bertanya? Tulis di kolom komentar.Ingin tele-konsultasi dengan dr. Wong atau dokter spesialis kanker lain dari Icon Cancer Centre? Isi form di tautan berikut https://www.smarterhealth.id/event/tanya-jawab-facebook-live-bersama-dr-karmen-wong-dampak-covid-19-pada-perawatan-kanker-payudara/Kami akan bantu hubungkan Anda dengan dokter.

Posted by Smarter Health Indonesia on Wednesday, September 30, 2020

Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek kisaran biaya?​

Layanan kami 100% gratis!

Sebarkan info ini:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Info Kesehatan Terkait

Tinggalkan komentar

Layanan Gratis Kami

Mau berobat atau check up?

Isi form agar kami bisa menghubungi Anda

Hubungi Kami
1
Butuh bantuan berobat?
Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek biaya berobat di dalam dan luar negeri?