tekanan darah

Perkembangan Terbaru untuk Manajemen Hipertensi

Paul Chiam - Dokter Jantung Singapura - Cardiology - Cardiology
Penulis:
Dokter spesialis jantung di Singapura

Sebarkan info ini:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Daftar Isi

Hipertensi adalah kondisi umum yang kejadiannya meningkat seiring dengan pertambahan usia. Dengan populasi yang menua, hipertensi semakin banyak ditemukan dan jumlah sering meningkat. Hipertensi biasanya terdiagnosa ketika pasien memiliki 2 bacaan tekanan darah (BP) > 140/90 mmHg terpisah.

Beberapa pasien kami memiliki hipertensi “jas putih”; meski kondisi ini biasanya tidak memerlukan perawatan, ada bukti bahwa ini tidak sejinak yang dipikirkan sebelumnya, dan diperlukan pengawasan ketat pada BP pasien. Namun, dalam artikel ini, hipertensi jas putih tidak akan dibahas lebih lanjut.

Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek kisaran biaya?​

Pakai layanan gratis Smarter Health.

Mengapa hipertensi harus dideteksi?

Hipertensi tidak menunjukkan gejala pada mayoritas besar pasien. Pada kasus-kasus langka, tekanan darah yang sangat tinggi dapat menyebabkan sakit kepala (meski sebagian besar sakit kepala tidak berkaitan dengan BP pasien), penglihatan kabur (akibat papilledema) dan napas tersengal-sengal (kegagalan ventrikel kiri). Pada sebagian besar orang, hipertensi menjadi pembunuh diam-diam. Hipertensi berkepanjangan yang tidak dikontrol dengan baik meningkatkan kekakuan arteri dan menyebabkan kerusakan organ fatal yang menuju pada peningkatan resiko stroke, infark miokard, gagal jantung, gagal ginjal, dan aneurisma aorta.

Sehingga penting untuk mendeteksi dan merawat pasien, terutama yang berusia muda, untuk mengurangi resiko kejadian di atas. Meskipun demikian telah ditunjukkan bahwa pada pasien lansia (di atas 80 tahun) yang mendapatkan manfaat dari perawatan hipertensi karena mereka mengalami penurunan kejadian stroke dan kejadian jantung. Dengan demikian, terlepas dari usia, perawatan hipertensi akan sangat bermanfaat bagi semua pasien.

alat pengukur tekanan darah dan stetoskoop
Alat pengukur tekanan darah dan stetoskoop.

Penyebab Hipertensi

Pada mayoritas pasien hipertensi, tidak ada penyebab spesifik yang bisa ditemukan (hipertensi “utama”). Biasanya banyak faktor berkontribusi pada hipertensi pada pasien tersebut meliputi genetika (riwayat keluarga), gaya hidup (gaya hidup sedentari), stres (lingkungan stres tinggi), diet tinggi garam, dll.

Pada sedikit pasien (biasanya pasien sangat muda berusia  di bawah 35 tahun), penyakit tersembunyi bisa menjadi penyebab hipertensi. Untuk kelompok usia ini, investigasi (termasuk ultrasonik arteri ginjal, tes darah dan tes urin) dilakukan untuk menemukan penyakit tersembunyi tersebut. Pada pasien yang lebih tua, khususnya mereka yang berusia >65 tahun, penyebab tersembunyi yang paling umum (jika ada) adalah stenosis arteri ginjal. Pada kasus langka ini, perawatan penyakit tersembunyi mungkin “menyembuhkan” hipertensi yang diderita pasien.

Perawatan hipertensi

Sebagian besar pasien dengan hipertensi bisa mendapatkan kontrol BP yang memuaskan dengan modifikasi gaya hidup dan terapi obat. Diet rendah garam, olahraga teratur, penurunan berat badan, dan mengurangi stres bisa merendahkan BP. Ini dapat membantu pasien dengan hipertensi ringan; meski demikian, tidak mungkin bahwa BP dapat berkurang sebanyak lebih dari 10 mmHg pada rata-rata kejadian dengan pengukuran ini, sebagian besar pasien masih tetap membutuhkan terapi obat.

Pedoman JNC 8 baru (dikeluarkan pada 2004) dari American Joint National Committee on Hypertension telah merekomendasikan relaksasi ringan target tekanan darah dibandingkan dengan pedoman JNC 7 yang lama. Untuk lansia (di atas 60 tahun) dengan hipertensi, pedoman tersebut merekomendasikan terapi dimulai ketika BP ≥ 150/90 mmHg dan dirawat untuk mendapatkan target BP ≤ 150/90 mmHg (sebelumnya targetnya adalah ≤ 140/90 mmHg). Untuk pasien lebih muda (di bawah 60 tahun), rekomendasi untuk memulai terapi adalah ketika BP ≥ 140/90 mmHg  dan dirawat untuk mendapatkan target BP < 140/90 mmHg (tidak berubah dari target sebelumnya).

Rekomendasi signifikan lainnya adalah untuk pasien sekitar umur 18 tahun dengan diabetes mellitus atau penyakit ginjal kronis, pedoman tersebut kini merekomendasikan memulai perawatan ketika BP ≥ 140/90 mmHg dan dirawat untuk mencapai target BP < 140/90 mmHg (target sebelumnya adalah 130/80 mmHg untuk pasien dengan diabetes atau penyakit ginjal kronis [CKD]).

Target baru dihasilkan dari peninjauan komprehensif pada data percobaan acak dibandingkan dengan JNC 7 dimana data percobaan non-acak dan opini ahli juga digunakan dalam menyusun pedoman. Dengan demikian, target baru ini diperoleh dari percobaan yang lebih besar dan menunjukkan manfaat klinis dalam merawat bermacam-macam kelompok usia pasien dengan targetnya masing-masing.

Pedoman yang baru juga merekomendasikan hanya 4 kelas obat sebagai lini pertama dalam perawatan pasien hipertensi: diuretik tipe thiazide, penyumbat saluran kalsium (CCB), penghambat enzim pengubah angiotensin (ACEI), penghambat reseptor angiotensin (ARB). Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa ACEI dan ARB tidak boleh digunakan secara bersamaan pada satu pasien. 

Ini berbeda dengan pedoman JNC 7 dimana diuretik tipe thiazide direkomendasikan sebagai terapi awal untuk sebagian besar pasien. Secara signifikan, obat penyumbat tidak lagi direkomendasikan untuk perawatan BP awal karena rasio kejadian kardiovaskular komposit yang lebih tinggi pada beberapa studi (sebagian besar disebabkan oleh peningkatan stroke).

Pada pasien dengan CKD usia 18 hingga 75 tahun, perawatan anti hipertensi harus melibatkan ACEI atau ARB, karena obat-obatan tersebut telah terbukti meningkatkan kerja ginjal.

Beberapa strategi pemberian dosis berbeda juga disarankan oleh pedoman JNC 8 untuk mencoba mencapai tujuan BP. Metode konvensional telah dilakukan untuk memaksimalkan obat pertama sebelum menambahkan yang kedua. 

Opsi lainnya adalah untuk menggunakan obat awal, dan menambahkan obat kedua sebelum mencapai dosis maksimal obat pertama. Opsi ketiga adalah memulai 2 obat dalam waktu yang sama terutama jika BP sistolik adalah ≥ 160 mmHg dan/atau BP diastolik adalah ≥ 100 mmHg, atau jika BP sistolik adalah ≥ 20 mmHg dan/atau BP diastolik adalah ≥ 10 mmHg. Metode mana pun yang digunakan, tambahkan obat ketiga untuk mencapai target BP. 

Jika tujuan BP masih tidak dapat dicapai setelah memaksimalkan dosis dari 3 kelas obat, kemudian obat anti hipertensi dari kelas lain bisa digunakan (misal hydralazine, dll.). Pada pasien dengan hipertensi refraktori atau pada komplikasi pasien dengan hipertensi, rujukan pada dokter spesialis jantung atau dokter spesialis hipertensi harus diberikan.

Kesimpulan

Pedoman baru ini mewakili penyederhanaan dan “relaksasi” target BP dengan tujuan 150/90mmHg untuk pasien lansia di atas 60 tahun, dan < 140/90mmHg untuk pasien lain (pasien lebih muda, atau pasien segala usia dengan diabetes atau penyakit ginjal kronis). Meskipun demikian, untuk pasien yang sudah memiliki hipertensi sebelumnya dengan kontrol BP di bawah target baru, tidak perlu mengubah atau menyesuaikan dengan regimen terapeutik mereka.

Penulis: dr. Paul Chiam, dokter spesialis jantung di Singapura. Diterjemahkan dari artikel Updates on The Management of Hypertension.

Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek kisaran biaya?​

Layanan kami 100% gratis!

Sebarkan info ini:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Info Kesehatan Terkait

Tinggalkan komentar

Layanan Gratis Kami

  • Rekomendasi dokter/rumah sakit
  • Buat janji dokter spesialis
  • Hitung estimasi biaya berobat
  • Cari paket medical check up

Mau berobat atau check up?

Isi form agar kami bisa menghubungi Anda