Prediksi Pandemi COVID-19 di Tahun 2021

Prediksi Pandemi COVID-19 di Tahun 2021

Sebarkan info ini:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Daftar Isi

Ditinjau oleh: dr. Qanissa Afianti Razzqy
Publish tanggal: Des 17, 2020
Update terakhir: Jan 25, 2021

Pandemi COVID-19 telah menyerang dunia selama satu tahun. Virus corona terus menyebar dengan banyak pasien meninggal. Di Indonesia sendiri sudah ada vaksin Sinovac atau CoronaVac produksi dari perusahaan Sinovac Biotech Ltd di Beijing, China. Namun, hingga saat ini vaksin Sinovac belum tersebar kepada masyarakat luas. Bagaimana prediksi pandemi COVID-19 di tahun 2021? Apakah sudah selesai? Simak prediksi berdasarkan hasil penelitian menurut para ahli. 

Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek kisaran biaya?​

Pakai layanan gratis Smarter Health.

Persiapan Menghadapi Penyebaran dan Dampak COVID-19

Di seluruh dunia, ahli epidemiologi sedang menyusun proyeksi jangka pendek dan jangka panjang. Hal ini sebagai salah satu cara persiapan untuk mengurangi penyebaran dan dampak SARS-CoV-2, yaitu virus penyebab COVID-19. 

Meskipun perkiraan dan jadwal mereka bervariasi, ada dua hal yang disetujui, yaitu COVID-19 akan tetap ada dan masa depan tergantung pada banyak hal yang tidak diketahui. Contohnya seperti kemampuan individu mengembangkan kekebalan tubuh terhadap virus, kemungkinan musim memengaruhi penyebarannya, serta keputusan yang dibuat oleh pemerintah dan individu. 

Rosalind Eggo, seorang modeller penyakit menular di London School of Hygiene & Tropical Medicine (LSHTM), mengatakan bahwa banyak tempat terbuka dan banyak tempat yang tidak terbuka, sehingga belum benar-benar dapat kita ketahui apa yang akan terjadi.

Menurut Joseph Wu, seorang modeller penyakit di Universitas Hong Kong, masa depan akan sangat bergantung pada seberapa banyak pencampuran sosial berlanjut dan jenis pencegahan yang kita lakukan. Model dan bukti terbaru dari lockdown yang berhasil, menunjukkan bahwa perubahan perilaku dapat mengurangi penyebaran COVID-19, tetapi belum tentu semua orang mematuhinya.

Jika kekebalan tubuh terhadap virus bertahan kurang dari satu tahun, mungkin ada lonjakan tahunan infeksi COVID-19 hingga tahun 2025 dan seterusnya. 

Apa yang Terjadi dalam Waktu Dekat?

Pandemi tidak terjadi dengan cara yang sama dari satu tempat ke tempat lain. Negara-negara seperti Cina, Selandia Baru, dan Rwanda telah mencapai tingkat kasus yang rendah setelah lockdown dalam jangka waktu yang berbeda-beda dan melonggarkan aturan sambil mengawasi gejolak penyebaran virus. Di tempat lain, seperti di Amerika Serikat dan Brasil, kasus COVID-19 meningkat dengan cepat setelah pemerintah mencabut aturan lockdown. 

Bukti awal menunjukkan bahwa perubahan perilaku, seperti mencuci tangan, memakai masker dan sistem lockdown membantu meminimalisir penyebaran virus. Sebuah tim MRC Center for Global Infectious Disease Analysis di Imperial College London, menemukan bahwa antara 53 negara yang mulai melonggarkan lockdown, belum ada lonjakan infeksi sebesar yang telah mereka prediksi berdasarkan data sebelumnya. 

Samir Bhatt, ahli epidemiologi penyakit menular di Imperial College London dan salah satu penulis penelitian, mengatakan bahwa seberapa banyak perilaku individu telah berubah dalam hal masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak sangat penting. Para peneliti telah mempelajari seberapa berguna perilaku tersebut. 

Jika 50% hingga 65% orang berhati-hati di tempat umum dengan menjalani protokol kesehatan dapat membantu mencegah lonjakan infeksi lebih lanjut selama 2 tahun ke depan. 

Seorang ahli biologi komputasi, Osmar Pinto Neto mengatakan bahwa memerlukan perubahan cara berinteraksi dengan orang lain. Ini merupakan kabar baik jika benar-benar berhasil kita lakukan. Hal ini karena tanpa pengujian atau vaksin, perubahan perilaku individu dapat membuat perubahan yang signifikan dalam penularan penyakit.

Prediksi Kasus dan Kematian di Tahun 2021

Respons yang efektif terhadap pandemi COVID-19 memerlukan perkiraan kasus dan kematian yang dapat kita jadikan sebagai landasan penelitian. Ada pun model yang menggabungkan faktor perilaku yang berbeda untuk mengalokasikan kapasitas pengujian yang terbatas, pengurangan kontak, pengobatan yang lebih baik, dan sebagainya.

Sebuah studi di Social Science Research Network (SSRN) mengembangkan penelitian berdasarkan data panel yang mencakup 91 negara dengan data yang bisa bermanfaat. Prediksi kasus dan kematian pasien akibat COVID-19 di tahun 2021 yaitu:

  • Juli 2020
    • Laporan kasus pasien yang terinfeksi yaitu 10.300.000 orang.
    • Perkiraan kasus pasien yang terinfeksi yaitu 108.000.000 orang.
    • Jumlah pasien meninggal dunia yaitu 475.000 orang.
    • Perkiraan jumlah pasien meninggal dunia yaitu 699.000 orang.
  • Maret 2021
    • Perkiraan kasus pasien yang terinfeksi yaitu 294.000.000 orang.
    • Perkiraan jumlah pasien meninggal dunia yaitu 2.010.000 orang. 

Skenario hingga Maret 2021 menunjukkan intervensi kebijakan yang sederhana dan perubahan perilaku dapat mengurangi kasus hampir mendekati 18%. 

Apa yang Terjadi di Tahun 2021 dan Seterusnya?

Pandemi COVID-19 di tahun 2021 sangat tergantung pada ketersediaan vaksin. Tentu saja hal ini juga bergantung pada berapa lama sistem kekebalan tubuh setelah vaksinasi atau pemulihan dari infeksi. Banyak vaksin memberikan perlindungan selama beberapa dekade, seperti vaksin untuk campak atau polio. Sedangkan vaksin lain termasuk batuk rejan (pertusis) dan influenza akan hilang seiring waktu. 

Beberapa infeksi virus menyebabkan kekebalan tubuh dalam jangka panjang, sedangkan yang lain hanya bersifat sementara. Seorang ahli epidemiologi Harvard Marc Lipsitch, Gard dan rekannya, menyatakan bahwa total kasus SARS-CoV-2 hingga tahun 2025 sangat bergantung pada durasi kekebalan tubuh setelah divaksinasi. 

Sebuah studi di National Center for Biotechnology Information meneliti kemungkinan kasus COVID-19 di tahun 2021 hingga 2025. Data di bawah ini berdasarkan prevalensi per 1.000 orang dan pandemi yang dimulai sejak Maret 2020:

  • Jika kekebalan tubuh bertahan < 40 minggu. kasus COVID-19 di tahun 2021 akan jauh lebih sedikit daripada tahun 2020, tapi akan mengalami peningkatan di tahun-tahun berikutnya meski tidak signifikan. 
  • Kekebalan tubuh bertahan sekitar 100 minggu. Kasus COVID-19 menurun drastis di tahun 2021. Tetapi tampaknya masih ada kasus di tahun 2022 hingga 2025 dengan jumlah yang naik-turun.
  • Saat kasus COVID-19 merupakan penyakit musiman. Kasusnya akan turun di tahun 2021. Tetapi muncul lagi di tahun 2022 dan 2024 meski tidak setinggi kasus di tahun 2020. 
  • Ketika virus corona lain memberikan cross-immunity. Maka pemulihan akan terlambat dengan kasus yang lebih tinggi di tahun 2021. Kemudian turun di tahun 2022 hingga 2023 dan naik lagi di tahun 2024. 

Kapan Pandemi COVID-19 Berakhir?

Para ahli membutuhkan penelitian lebih lanjut dengan banyak peserta dan dalam waktu yang lama untuk mengetahui jawaban yang jelas tentang kekebalan tubuh setelah divaksinasi dan pengaruhnya terhadap kasus COVID-19 di tahun-tahun berikutnya. Ini dikatakan oleh Michael Osterholm, direktur Center for Infectious Disease Research and Policy (CIDRAP) at the University of Minnesota, Minneapolis.

Jika jumlah pasien terinfeksi terus meningkat dengan cepat tanpa vaksin atau kekebalan tubuh jangka panjang, maka virus akan menjadi endemik. Malaria adalah penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan, tetapi dapat membunuh lebih dari 400.000 orang setiap tahun. Skenario kasus terburuk ini terjadi di banyak negara dengan penyakit yang menyebabkan hilangnya nyawa dalam jumlah besar.

Jika virus menyebabkan kekebalan tubuh jangka pendek, maka orang dapat terinfeksi kembali dan mungkin ada wabah tahunan. 

Kemungkinan lainnya adalah kekebalan terhadap SARS-CoV-2 bersifat permanen. Dalam hal ini, bahkan tanpa vaksin, virus tersebut akan terbakar dan menghilang pada tahun 2021. Namun, jika kekebalannya sedang, wabah berlangsung sekitar 2 tahun. Virus seolah-olah telah menghilang, tetapi bisa melonjak kembali hingga akhir 2024.

Oleh sebab itu, terapkan perilaku seperti mencuci tangan, memakai masker, dan melakukan physical distancing agar jumlah kasus dan pasien meninggal selama pandemi COVID-19 di tahun 2021 bisa menurun dibandingkan tahun 2020. Dalam hal ini, vaksinasi juga memegang peran penting. 

Jika punya gejala COVID-19, segera hubungi penyedia layanan atau dokter.

Referensi:
Megan Scudellari (2020). Nature. How the pandemic might play out in 2021 and beyond.
Hazhir Rahmandad, TY Lim, John Sterman on Social Science Research Network (2020). Behavioral Dynamics of COVID-19: Estimating Under-Reporting, Multiple Waves, and Adherence Fatigue Across 91 Nations.
National Library of Medicine (2020). Projecting the transmission dynamics of SARS-CoV-2 through the postpandemic period.

Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek kisaran biaya?​

Layanan kami 100% gratis!

Sebarkan info ini:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Info Kesehatan Terkait

Tinggalkan komentar

Layanan Gratis Kami

Mau berobat atau check up?

Isi form agar kami bisa menghubungi Anda

Your compare list

Compare
REMOVE ALL
COMPARE
0
Hubungi Kami
1
Butuh bantuan berobat?
Smarter Health
Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek biaya berobat di dalam dan luar negeri?