Andrologi

Jika kesehatan organ reproduksi perempuan adalah ranah keahlian dokter spesialis obgyn, kesehatan alat reproduksi lelaki ditangani dokter spesialis andrologi

Masalah kesehatan pria yang ditangani oleh dokter spesialis andrologi mencakup beberapa hal seperti masalah kesuburan/infertilitas, masalah sistem reproduksi beserta semua organ di dalamnya, serta gangguan fungsi seksual.

Dalam cabang ilmu kedokteran, andrologi fokus mempelajari seputar sistem reproduksi pria, baik struktur dan fungsinya. Termasuk pula gangguan pada alat kelamin dan hormon pria. 

Meskipun di awal kemunculannya, andrologi merupakan hasil gabungan berbagai bidang ilmu kedokteran, andrologi kini bisa dikatakan sebagai disiplin kedokteran yang mempelajari patofisiologi sistem reproduksi pria, mulai dari perkembangan kedewasaan hingga penuaan. 

Dengan kata lain, mendatangi dokter spesialis andrologi adalah pilihan yang tepat bagi pria yang memiliki keluhan seputar organ reproduksi dan kehidupan seksual.

Seperti dokter spesialis lainnya, untuk menjadi seorang dokter spesialis andrologi diperlukan pendidikan dokter umum terlebih dahulu. Setelah itu, barulah mengambil spesialis yang berlangsung setidaknya selama 6 semester dan mendapatkan gelar Sp.And (spesialis andrologi).

Di Indonesia, dokter spesialis andrologi bergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Andrologi Indonesia (PERSANDI). 

 

Mengenal Sistem Reproduksi Pria

Dokter andrologi paham betul soal sistem reproduksi pria, baik dari segi fungsi, struktur, hingga masalah yang berpotensi muncul. Organ reproduksi pria akan mulai aktif setelah masa pubertas yakni yang berlangsung pada kisaran usia 9-15 tahun.

Berdasarkan letaknya, sistem reproduksi pria terbagi ke dalam dua bagian yakni struktur eksternal dan struktur internal.

Organ reproduksi pria yang termasuk ke dalam struktur eksternal, yakni:

  • Penis, yakni organ vital yang digunakan untuk berhubungan seks dan memiliki saluran sebagai jalur keluarnya sperma saat terjadi orgasme.
  • Testis, yakni kelenjar yang memproduksi sperma dan hormon testosteron. Hormon testosteron mempengaruhi kinerja organ reproduksi dan bermanfaat dalam pengembangan karakteristik pria dalam aspek fisik dan gairah seksual. 
  • Skrotum, yakni kantong kulit yang menggantung pada pangkal penis dan melindungi testis beserta saraf maupun pembuluh darah di dalamnya.

Sedangkan organ reproduksi yang masuk ke dalam struktur internal disebut juga sebagai organ aksesoris, meliputi:

  • Uretra, yakni saluran lewatnya urin dan sperma.
  • Epididimis, berfungsi sebagai tempat “transit” sperma yang diproduksi testis dan membawa sperma yang belum matang ke vas deferens.
  • Vas deferens, yang berfungsi membawa sperma matang menuju uretra.
  • Vesikula seminalis.
  • Duktus ejakulatorius.
  • Kelenjar prostat.
  • Kelenjar bulbourethral.

Tindakan Medis Yang Bisa Dilakukan Dokter Spesialis Andrologi

Sebagai dokter yang memahami seluk beluk organ reproduksi pria, dokter andrologi memiliki kompetensi untuk melakukan pemeriksaan dan menegakkan diagnosis. Dokter akan menggali informasi seputar riwayat kesehatan pasien dan keluhan yang sering dialami. Selain itu, ada pula pemeriksaan fisik secara menyeluruh yang meliputi pemeriksaan testis, penis, dan sebagainya. 

Untuk menangani, mendiagnosis dan mengobati pasien, dokter andrologi melakukan beberapa prosedur medis sebagai berikut:

  • Analisis sperma dan air mani.
  • Perawatan bagi proses pembentukan sel sperma dan pembuahan.
  • Kontrasepsi bagi pria.
  • Kriopreservasi (proses pembekuan sel sperma).
  • Penanganan disfungsi ereksi penis.
  • Memberikan terapi hormon.
  • Bayi tabung, sebagai prosedur yang membantu proses pembuahan.

Penyakit yang Ditangani Dokter Spesialis Andrologi

Ada berbagai permasalahan soal reproduksi pria yang biasa ditangani oleh dokter andrologi, baik pada pria dewasa maupun usia lanjut, di antaranya:

  • Infertilitas pada pria, yang secara garis besar merupakan gangguan kesuburan yang disebabkan oleh sperma. Beberapa kondisi yang terjadi misalnya seperti kurangnya jumlah sperma, adanya kelainan bentuk sperma, atau pergerakan sperma yang lambat. Terjadinya infertilitas pada pria akan menyebabkan sulitnya memperoleh keturunan karena sperma yang kurang berkualitas. Untuk mengetahui masalah kesuburan seperti apa yang terjadi, dokter andrologi akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, khususnya pada organ reproduksi pria. Jika diperlukan, dokter akan memeriksa hormon dan kualitas sperma guna mengetahui lebih pasti penyebab gangguan kesuburan yang dialami pria dan memberikan pengobatan yang tepat. 
  • Disfungsi seksual, seperti ejakulasi dini. Sebagai masalah disfungsi seksual yang paling umum ditemui, ejakulasi dini ditandai dengan keluarnya sperma sebelum penetrasi atau tidak lama setelah penetrasi. Keluarnya sperma yang terlalu cepat dapat menyebabkan tidak tercapainya klimaks pada pasangan ataupun pria itu sendiri. Disfungsi seksual lainnya yang sering ditemui pada pria adalah disfungsi ereksi atau impotensi, yakni kondisi penis yang tidak mampu ereksi saat berhubungan seksual. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti faktor afektif, kognitif, hingga antarpersonal. Selain itu, disfungsi seksual yang kerap terjadi pada pria adalah menurun atau bahkan hilangnya libido/gairah seksual. Hal ini bisa dipicu oleh berbagai faktor seperti masalah psikologi (kecemasan dan depresi) ataupun penyakit tertentu (diabetes dan tekanan darah tinggi).
  • Hipogonadisme, yakni gangguan hormon seksual pria. Hipogonadisme terjadi ketika testis memproduksi hormon seksual pria dalam jumlah yang sedikit. Penyakit autoimun, infeksi, kelainan genetik, gangguan pada organ dalam, efek radiasi, hingga komplikasi dari operasi pada organ reproduksi dapat mempengaruhi jumlah produksi hormon. Apabila terjadi, hipogonadisme akan ditandai dengan turunnya gairah seksual, kehilangan massa otot, terjadi pembesaran payudara (ginekomastia). 
  • Andropause, yakni sindrom kekurangan hormon testosteron pada pria di usia lanjut. Kondisi ini disebabkan akibat penurunan fungsi poros pengendali hormon testosteron seperti hipotalamus, hipofisis, dan gonad di otak.

Kapan Harus Berobat ke Dokter Spesialis Andrologi?

Banyak pasien pria yang masih bingung ketika menghadapi permasalahan soal gangguan alat reproduksi maupun gangguan fungsi seksual. Banyak yang salah memilih antara dokter spesialis kulit dan kelamin, dokter urologi, atau dokter spesialis andrologi. 

Masalah yang ditangani oleh dokter spesialis kulit dan kelamin umumnya hanya berkaitan dengan kelainan kulit di organ kelamin serta infeksi yang ditimbulkan dari aktivitas seksual. Di lain sisi, dokter urologi lebih menangani permasalahan saluran kemih meskipun juga dapat menangani gangguan pada organ reproduksi pria yang berhubungan dengan sistem saluran kemih. Sedangkan dokter andrologi akan memberi penanganan dan pemeriksaan seputar kesuburan, sistem reproduksi, dan gangguan fungsi seksual pada pria.

Bagi pasangan suami istri yang ingin menjalani program hamil, menemui dokter andrologi sangatlah disarankan. Dokter andrologi akan memeriksa kesuburan dan kualitas sperma yang dihasilkan pria, tingkat hormon, dan mendeteksi disfungsi seksual yang bisa menghambat kehamilan. Agar program hamil berjalan optimal, pihak wanita juga disarankan untuk menemui dokter kandungan guna mengetahui kesehatan organ reproduksi dan tingkat kesuburan.

Selain adanya gangguan dari dalam tubuh, kualitas sperma pada pria juga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti konsumsi alkohol berlebih, merokok, logam, ataupun zat-zat kimia. Bahkan, menemui dokter andrologi disarankan sejak masa pranikah guna mengetahui apakah sang pria memiliki masalah di sistem reproduksi ataupun kesuburan. 

Bagi pria yang lanjut usia, menemui dokter andrologi juga diperlukan untuk menangani kasus andropause ataupun masalah disfungsi ereksi.

 

Cari rekomendasi dokter, cek jadwal atau estimasi biaya? Silakan isi form ini: