Daftar Dokter Saraf di Dalam & Luar Negeri

Dokter Spesialis Saraf

Dokter spesialis saraf atau yang sering disebut dengan dokter spesialis neurologi merupakan dokter yang ahli dalam menangani berbagai permasalahan terkait sistem saraf. Yang termasuk dalam sistem saraf adalah otak, otot, saraf tepi, dan saraf tulang belakang.

Bidang neurologi yang dikuasai oleh dokter spesialis saraf merupakan cabang ilmu kedokteran yang mempelajari secara mendalam tentang sistem saraf. Sistem ini begitu penting karena bertanggung jawab dalam mengatur segala fungsi koordinasi tubuh, mengatur cara kerja organ tubuh, bertugas menerima berbagai rangsangan dan memprosesnya, memampukan tubuh untuk bergerak, hingga mendorong otak bekerja dalam berpikir maupun mengingat sesuatu. Dengan kata lain, sistem saraf sangat berpengaruh karena mengatur segala aktivitas di dalam tubuh manusia mulai dari proses kognitif hingga memproses rangsangan ke dalam tindakan.

Apabila seorang pasien memiliki gangguan pada sistem saraf, maka disarankan menemui dokter spesialis neurologi. Hal tersebut dikarenakan penyakit saraf dapat menyebabkan terganggunya seluruh atau sebagian fungsi tubuh, seperti kesulitan dalam bergerak, bernapas, berbicara, gangguan ingatan, hingga terganggunya fungsi organ tubuh bagian dalam.

Sesuai dengan metode perawatan yang diberikan kepada pasien, dokter spesialis neurologi umumnya dibagi menjadi dua yakni dokter bedah saraf dan dokter spesialis saraf yang menggunakan metode non-bedah. 

Dokter bedah saraf biasa dikenal sebagai neurosurgeon, yang terbagi ke dalam beberapa jenis seperti bedah saraf tumor, bedah saraf vaskular, bedah saraf fungsional, bedah saraf traumatik, bedah saraf pediatrik, dan bedah saraf spinalis. 

Untuk dapat memberikan tindakan operasi, dokter bedah saraf biasanya harus menjalani pendidikan residensi bedah saraf selama 6 tahun setelah lulus dari pendidikan kedokteran umum. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menjadi dokter bedah saraf menyebabkan masih jarangnya ditemukan dokter bedah saraf di beberapa negara, termasuk Indonesia. Tak berbeda jauh, dokter spesialis saraf juga diharuskan melewati pendidikan dokter umum dan melanjutkan spesialis neurologi selama beberapa tahun. 

Di Indonesia, dokter spesialis saraf bernaung di bawah organisasi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI).

Sub-spesialis Dokter Neurologi

Bagi sebagian dokter spesialis saraf, memegang spesialis neurologi tidaklah cukup. Banyak dokter neurologi yang menjadi konsultan dan mengambil sub-spesialis guna mengetahui lebih dalam seluk beluk saraf. Dalam praktik kerjanya, dokter sub-spesialis ini dapat bekerjasama dengan dokter lain guna memberi tindakan yang tepat, seperti berkolaborasi dengan dokter bedah saraf apabila pasien membutuhkan pembedahan. 

Beberapa sub-spesialisasi dalam bidang neurologi, yaitu:

  • Neurologi anak, yang fokus menangani gangguan saraf pada anak, baik dari usia 0 tahun hingga remaja. Berbagai gangguan saraf yang ditangani sub-spesialis neurologi anak seperti hidrosefalus, lemah otot, hingga tumor otak.
  • Neurologi epilepsi, yang bisa memberi tindakan medis terkait penyakit epilepsi.
  • Neurologi vaskular, yakni yang fokus mendalami gangguan saraf yang berhubungan dengan pembuluh darah otak.
  • Neurologi nyeri dan saraf tepi, yang fokus menangani gangguan saraf seputar nyeri dan gangguan saraf tepi.
  • Neurologi intervensi, yakni yang fokus menangani gangguan sistem saraf pusat di otak dan saraf tulang belakang dengan teknologi radiologis dan penanganan bermetode invasif minimal. 
  • Neuro-onkologi, yakni sub-spesialis saraf yang fokus menangani kanker ataupun tumor pada otak dan saraf tulang belakang. 
  • Neurologi geriatri, yakni sub-spesialis saraf yang fokus menangani gangguan saraf akibat penuaan/lanjut usia.
  • Neurologi intensif dan emergensi, yakni sub-spesialis saraf yang khusus menangani kasus gawat darurat atau kondisi kritis terkait saraf. 

Penyakit yang Ditangani Dokter Neurologi

Sebelum membahas lebih lanjut soal penyakit dan masalah yang mampu ditangani oleh dokter neurologi. Kenali dahulu beberapa tipe saraf yang ada di tubuh manusia, antara lain:

  • Saraf motorik, yakni saraf yang mengirim sinyal (impuls) dari otak dan sumsum tulang belakang ke semua otot di dalam tubuh.
  • Saraf sensorik, yakni saraf yang mengirimkan kembali sinyal (impuls) dari kulit dan otot kembali ke tulang belakang dan otak. 
  • Saraf otonom, yakni saraf yang mengendalikan fungsi gerakan tubuh yang tidak atau setengah disadari, seperti detak jantung, tekanan darah, gerakan usus, dan pengaturan suhu tubuh.

Apabila Anda mengalami gangguan pada ketiga jenis saraf di atas, maka Anda disarankan untuk menemui dokter spesialis saraf. Berikut beberapa penyakit yang bisa ditangani oleh dokter neurologi, yaitu:

  • Stroke.
  • Epilepsi.
  • Tumor sistem saraf.
  • Multiple sclerosis.
  • Demensia, misalnya pada penyakit Alzheimer.
  • Gangguan gerak.
  • Myasthenia gravis.
  • Infeksi sistem saraf pusat, seperti meningitis, abses otak, dan radang otak (ensefalitis).
  • Penyakit Lou Gehrig.
  • Gangguan saraf tulang belakang.
  • Migrain/sakit kepala parah.
  • Neuropati perifer.
  • Tremor.
  • Penyakit Parkinson.
  • Saraf terjepit.
  • Nyeri terkait gangguan saraf.

Tindakan Medis Yang Bisa Dilakukan Dokter Neurologi

Dalam menghadapi berbagai gangguan pada saraf, dokter spesialis neurologi dapat melakukan berbagai tindakan medis. Umumnya, dokter akan melakukan diagnosis dengan menelusuri riwayat kesehatan dan bertanya seputar gejala yang dirasakan pasien. Selanjutnya, dokter neurologi akan mencari informasi lebih dalam dengan melakukan serangkaian pemeriksaan fisik umum dan pemeriksaan fisik neurologis (pemeriksaan saraf) seputar otak dan saraf tepi. 

Berikut beberapa jenis pemeriksaan saraf yang bisa dilakukan oleh dokter neurologi:

  • Pemeriksaan fungsi saraf,  yang berupa pemeriksaan gaya berjalan, cara bicara, dan status mental.
    • Analisis gaya berjalan (gait analysis), yakni pemeriksaan terhadap pola dan gaya berjalan untuk melihat apakah pasien mampu berjalan dengan normal atau tidak. Dari sini dokter neurologi akan mencari tahu apakah gangguan berjalan tersebut disebabkan oleh cedera, faktor genetika, penyakit, atau terganggunya fungsi tungkai atau telapak kaki.
    • Analisis cara bicara (speech analysis), yakni pemeriksaan terhadap cara berkomunikasi individu.
    • Evaluasi status mental (mental status evaluation), yakni pemeriksaan terhadap kondisi psikis pasien, terutama seputar kemampuan pasien dalam mengolah memori, orientasi, dan kecerdasan.
  • Pemeriksaan saraf kranial, yang meliputi saraf olfaktori (penciuman), saraf optik (penglihatan), saraf okulomotor (gerakan mata), saraf wajah (ekspresi wajah), dan saraf vestibulocochlear (pendengaran dan keseimbangan.
  • Pemeriksaan sistem saraf sensorik, yang berupa pemeriksaan respons saraf pasien terhadap sentuhan, rasa sakit, suhu, getaran, dan cara mengidentifikasi bentuk serta ukuran suatu objek.
  • Pemeriksaan sistem saraf motor, yakni pemeriksaan terhadap gerak, bentuk dan ukuran otot, kekuatan otot, serta massa otot.
  • Pemeriksaan refleks, otak kecil, dan meningeal, yang berupa pemeriksaan refleks dengan mengetuk beberapa bagian tubuh, seperti siku tangan, lutut, atau pergelangan kaki. Sedangkan pemeriksaan meningeal dilakukan dengan metode pemeriksaan Brudzinski (tes kekakuan leher) dan pemeriksaan Kernig (pemeriksaan kelenturan paha pada persendian panggul untuk membentuk sudut 90o). Sedangkan, pemeriksaan otak kecil dilakukan guna mencari tahu adanya disartia (bicara cadel atau lambat), dismetria (ketidakmampuan memulai atau menghentikan gerakan motorik halus), atau kelainan gaya berjalan, misalnya pada penderita ataksia.
  • Pemeriksaan sistem saraf otonom, yakni dengan memeriksa tanda disfungsi saraf otonom, seperti berkeringat, pucat, perubahan pada kulit dan kuku, serta perubahan tekanan darah.

Setelah adanya serangkaian pemeriksaan di atas, dokter neurologi bisa melakukan beberapa pemeriksaan tambahan guna menentukan diagnosis yang tepat, seperti:

  • Pemeriksaan laboratorium yang mencakup tes urine, tes darah, dan analisa cairan otak.
  • Pemeriksaan radiologi berupa CT scan, MRI, PET scan, angiografi, rontgen, pemeriksaan USG.
  • Tes listrik saraf, yakni berupa  pemeriksaan gelombang listrik otak (elektroensefalogram atau EEG), listrik saraf otot (elektromigrafi atau EMG), pemeriksaan saraf mata dan organ keseimbangan (elektronistagmorafi atau ENG).
  • Biopsi, guna melihat jaringan otak dan saraf pada kasus tumor di sistem saraf sehingga dapat diketahui apakah tumor bersifat ganas atau tidak.

Apabila diagnosis telah ditentukan, dokter neurologi akan menyarankan metode pengobatan yang sesuai dan dibutuhkan oleh pasien. Pengobatan yang diberikan di tahap awal umumnya berguna untuk mengurangi gejala gangguan saraf yang muncul. Jika diperlukan, dokter neurologi juga bisa menyarankan dan merujuk pasien pada dokter spesialis bedah saraf.

Kapan Harus Berobat ke Dokter Neurologi?

Untuk menemui dokter spesialis saraf, Anda bisa berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter umum. Meski begitu, Anda disarankan untuk segera menemui dokter spesialis saraf apabila Anda mengalami beberapa gejala seperti berikut:

  • Kejang.
  • Tremor.
  • Merasa kesulitan untuk berjalan.
  • Badan mudah lelah.
  • Adanya kelemahan atau kelumpuhan otot.
  • Sering mengalami kebas atau mati rasa pada bagian tubuh tertentu.
  • Mengecilnya massa otot (atrofi otot).
  • Rasa sakit yang tak tertahankan.
  • Gangguan penglihatan.
  • Kesulitan untuk berbicara.
  • Gangguan menelan.
  • Berkeringat secara berlebihan.
  • Pusing berputar (vertigo).

Sebarkan info ini:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email

Cari rekomendasi dokter, cek jadwal atau estimasi biaya?

Isi form agar kami bisa menghubungi Anda

Kirim Pesan WhatsApp
1
Kirim Pesan WhatsApp
Cari rekomendasi dokter, cek jadwal atau estimasi biaya? Hubungi kami via WhatsApp berikut!
Powered by