Transfusi Darah

Daftar Isi

Transfusi darah merupakan metode menyalurkan darah dari satu orang ke orang lain, terutama kepada orang yang sedang kekurangan darah atau mengidap penyakit tertentu.

Darah yang ditransfusikan dapat berupa keseluruhan komponen darah atau salah satu komponen darah saja. Berikut macam-macam komponen yang ada pada darah:

Trombosit atau thrombocyte concentrates (TC)

Trombosit berfungsi sebagai zat yang menghentikan perdarahan.

Faktor pembekuan atau cryoprecipitate

Cryoprecipitate memiliki peran yang hampir sama dengan trombosit, yaitu untuk menghentikan perdarahan.

Sel darah merah atau packed red cell (PRC)

Sel darah merah merupakan komponen yang paling sering dibutuhkan dalam transfusi darah. Fungsi dari sel darah merah adalah sebagai zat perantara oksigen mengalir dari jantung ke seluruh tubuh dan dapat membuang karbon dioksida dan zat-zat sisa tubuh.

Plasma darah atau fresh frozen plasma (FFP)

Plasma darah merupakan komponen darah yang paling cair, berwarna kekuningan, serta berfungsi untuk membawa sel darah. Di dalam plasma darah terkandung faktor pembekuan, protein, kalsium, natrium, kalium, hormon, serta vitamin. Plasma darah juga berguna untuk daya tahan tubuh.

Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek kisaran biaya?​

Pakai layanan gratis Smarter Health.

Siapa yang Membutuhkan Transfusi Darah?

Transfusi darah perlu dilakukan pada kondisi pasien seperti di bawah ini.

  • Gangguan fungsi hati.
  • Kurang darah atau anemia.
  • Baru saja mengalami kecelakaan yang menyebabkan perdarahan hebat.
  • Baru menjalani operasi besar dan kehilangan darah dalam jumlah banyak pada prosesnya. 
  • Trombositopenia atau kondisi trombosit yang lebih rendah dari yang seharusnya.
  • Mengidap hemofilia, atau kondisi dimana sistem pembekuan darah pada tubuh mengalami gangguan.
  • Mengidap thalasemia, atau kelainan bentuk darah yang menyebabkan tubuh selalu dalam kondisi yang cenderung kekurangan darah.

Estimasi Biaya Transfusi Darah

Biaya yang dibutuhkan untuk transfusi darah beragam, tergantung dari jenis komponen darah yang ditransfusi, banyaknya darah, serta rumah sakit yang dipilih. 

Untuk estimasi biaya transfusi darah di dalam dan luar negeri, hubungi Smarter Health.

Sebelum Transfusi Darah

Pertama-tama, pengambilan darah akan dilakukan baik dari sisi penerima maupun pendonor yang akan diklasifikasikan dalam salah satu dari empat golongan darah (A, B, O, dan AB) serta rhesus positif atau negatif. 

Setelah itu, akan dilakukan pencocokan (crossmatch) antara golongan darah penerima dan pendonor untuk memastikan bahwa transfusi darah yang akan dilakukan tidak akan berbahaya bagi kedua pihak. Penggabungan dua jenis golongan darah tertentu kemungkinan menimbulkan antibodi yang dapat menyerang sel darah pendonor atau membahayakan bagi penerima.

Selama Transfusi Darah

Pada saat dilakukannya transfusi darah, pasien akan diminta duduk dan bersandar atau berbaring. Kemudian dokter akan menginjeksi jarum ke area lengan atau tepatnya daerah pembuluh darah.

Jarum tersebut terhubung dengan kateter atau selang tipis yang berfungsi untuk mengalirkan darah ke dalam kantong darah. Untuk pendonor, darah akan diambil dari pembuluh darah ke kantong darah sedangkan untuk penerima, darah dari kantong darah akan dialirkan ke tubuh melalui pembuluh darah.

Proses transfusi darah secara umum akan berlangsung selama 4 jam atau lebih cepat. Lamanya proses ini tergantung pada banyaknya darah yang didonorkan serta jenis darah. Pada 15 menit pertama, dokter akan memantau keadaan pasien dengan intensif untuk memastikan pasien tidak mengalami reaksi alergi. Jika terpantau ada reaksi alergi pada tubuh pasien, prosedur harus segera dihentikan. Jika setelah 1 jam tidak terpantau ada reaksi alergi, proses transfusi darah dapat dipercepat prosesnya.

Sesudah Transfusi Darah

Selang yang disuntikkan ke tubuh pasien akan dilepaskan usai proses transfusi darah. Setelah itu, kondisi pasien juga akan terus dipantau, terutama bagian tubuh vital seperti denyut jantung, tekanan darah, hingga suhu tubuh.

Risiko Transfusi Darah

Transfusi darah merupakan tindakan medis yang aman, namun beberapa risiko yang mungkin timbul dari transfusi darah adalah sebagai berikut:

Demam

Jika usai transfusi darah tubuh Anda mengalami demam, hal ini merupakan hal yang wajar. Demam merupakan cara tubuh merespon sel darah putih tambahan dari pendonor yang masuk ke dalam tubuh penerima. Kondisi ini dapat ditangani dengan mengonsumsi obat demam dan dapat dicegah dengan memberikan darah yang terlebih dahulu sudah dibuang sel darah putihnya atau yang memiliki istilah medis leukodepleted. 

Reaksi alergi

Ciri-ciri bahwa tubuh mengalami alergi setelah transfusi darah adalah rasa tidak nyaman atau sakit pada dada atau punggung, kesulitan bernapas, demam, mual, menggigil, kulit kemerahan, jantung berdenyut lebih cepat, serta penurunan tekanan darah.

Kadar zat besi berlebih

Mengingat darah mengandung zat besi, terlalu banyak menerima transfusi darah dapat menyebabkan tubuh penerima kelebihan zat besi. Kondisi ini dapat berujung pada kerusakan jantung, hati, serta organ tubuh yang lain.

Infeksi

Jika pendonor memiliki penyakit HIV, hepatitis B, hepatitis C, atau hepatitis D, penyakitnya dapat tertular ke tubuh penerima. Namun, mengingat selalu dilakukan pemeriksaan darah baik penerima maupun pendonor sebelum dilakukannya transfusi darah, kemungkinan terjadinya poin ini cukup kecil.

Penyakit graft versus host

Penyakit ini dapat terjadi jika sel darah putih yang diterima berbalik dan justru menyerang jaringan penerima. Penerima dengan kekebalan tubuh yang rendah, seperti yang mengidap penyakit autoimun, leukemia, atau limfoma akan rentan dengan penyakit ini.

Reaksi transfusi hemolitik

Kondisi ini terjadi pada saat sistem imun tubuh justru menyerang sel darah yang ditransfusikan. Penyebab dari reaksi transfusi hemolitik adalah adanya ketidakcocokan antara darah pendonor dan penerima. Reaksi ini juga menyebabkan senyawa yang dapat berbahaya bagi ginjal.

Reaksi hemolitik tertunda 

Kondisi ini mirip dengan reaksi transfusi hemolitik namun reaksinya muncul dalam waktu yang lebih lama, kurang lebih sekitar 1 hingga 4 minggu. Meski menerima transfusi darah, reaksi ini dapat membuat sel darah merah turun secara perlahan hingga menjadi sangat rendah. Kondisi terburuknya, penderita dapat kehilangan kesadaran. Baik reaksi transfusi hemolitik maupun reaksi hemolitik tertunda, biasanya hanya menimpa pasien yang pernah menerima transfusi darah sebelumnya.

Sebarkan info ini:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Tinggalkan komentar

Layanan Gratis Kami

  • Rekomendasi dokter/rumah sakit
  • Buat janji dokter spesialis
  • Hitung estimasi biaya berobat
  • Cari paket medical check up

Mau berobat atau check up?

Isi form agar kami bisa menghubungi Anda

Hubungi Kami
1
Butuh bantuan berobat?
Butuh rekomendasi, buat janji dokter atau cek biaya berobat di dalam dan luar negeri?